Luar Biasa! Berita Vaksin Pfizer Bikin Saham Berjangka AS Melesat

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 16 Nov 2020 10:51 WIB
Persaingan Ketat Penghitungan Suara Pemilu AS, Bursa Saham Seolah Menahan Napas
Foto: DW (News)
Jakarta -

Saham berjangka Amerika Serikat (AS) melesat pada Minggu malam. Rotasi yang dilakukan oleh investor berdampak pada kinerja saham. Semua gara-gara berita vaksin Corona dari Pfizer.

Mengutip CNBC, Senin (16/11/2020), Dow Jones Industrial Average berjangka naik 202 poin atau 0,7%. S&P 500 berjangka diperdagangkan 0,7% lebih tinggi dan Nasdaq 100 berjangka naik 0,9%.

S&P 500 membukukan rekor penutupan tertinggi pada hari Jumat dan membukukan kenaikan satu minggu sebesar 2,2%. Dow Jones naik 4% minggu lalu dan sempat mencapai rekor intraday minggu lalu. Senada, Nasdaq Composite naik 0,6%. Hal itu terjadi karena investor menumpuk saham yang terpukul dengan mengorbankan saham pertumbuhannya tinggi di tengah berita vaksin yang positif.

Dana yang diperdagangkan di bursa iShares Russell 1000 Value (IWD) menguat 5,7% minggu lalu. Sementara, iShares Russell 1000 Growth ETF (IWF) turun 1,2%.

Pfizer dan BioNTech mengatakan pekan lalu bahwa kandidat vaksin virus Corona mereka lebih dari 90% efektif mencegah COVID-19. Berita tersebut memicu harapan akan pemulihan ekonomi, sehingga membuat saham-saham seperti United Airlines dan Carnival Corp lebih menarik. United dan Carnival masing-masing menguat 12,4% dan 15,9%, minggu lalu.

"Pengumuman vaksin COVID-19 yang efektif oleh Pfizer/BioNTech minggu lalu sangat penting sehingga kita hampir lupa bahwa baru saja ada pemilihan presiden AS," tulis analis TS Lombard Steven Blitz dan Andrea Andrea Cicione dalam sebuah catatan.

"Vaksin mengubah apa yang bisa menjadi krisis berkepanjangan menjadi sesuatu yang mendekati bencana alam (guncangan besar, pemulihan cepat)," kata mereka.

Meski begitu, jumlah kasus virus Corona masih terus meningkat sehingga mengancam prospek pemulihan ekonomi yang cepat. Lebih dari 11 juta infeksi COVID-19 telah dikonfirmasi di AS, menurut data dari Universitas Johns Hopkins.

(acd/fdl)