Saham Alibaba Melonjak 5% Usai 'Nurut' ke Pemerintah China

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 24 Nov 2020 09:39 WIB
alibaba
Foto: internet
Jakarta -

CEO Alibaba Daniel Zhang menyambut baik peraturan pembatasan untuk perusahaan teknologi atau internet yang direncanakan pemerintah China. Menurutnya peraturan itu perlu dilakukan dan tempat waktu.

Zhang mengatakan ekonomi digital China akan jauh berkembang dan berinovasi berkat kebijakan pemerintah yang baru. Dia juga menilai peraturan baru itu dibutuhkan untuk memastikan platform online berkembang lebih tertib dan sehat.

"Kami yakin ini sangat tepat waktu dan perlu. Karena industri internet China terus berkembang, banyak masalah dan tantangan baru pasti akan muncul, pemerintah pun perlu mengelolanya dengan kebijakan dan peraturan yang mengikuti perkembangan zaman," ujar Zhang, dikutip dari CNN, Selasa (24/11/2020).

Saham Alibaba yang diperdagangkan di Hong Kong pun ditutup naik hampir 5% setelah pidato Zhang. Pernyataan Zhang muncul sekitar sebulan setelah miliuner Jack Ma mengkritik regulator China dengan mengatakan regulator telah menghambat inovasi dan mengecam bank-bank negara itu memiliki mentalitas pegadaian.

Tak lama setelah komentar Ma, regulator China menghentikan IPO Ant Group yang sangat dinantikan, perusahaan teknologi keuangan yang berafiliasi dengan Alibaba dan dikendalikan oleh Ma. Float itu ditetapkan menjadi IPO terbesar dalam sejarah.

Sebelum IPO ditarik, pemerintah China mengumumkan rancangan peraturan untuk perusahaan pemberi pinjaman konsumen online seperti Ant. Peraturan yang diusulkan termasuk membatasi pinjaman kepada peminjam perorangan sebesar US$ 45.700, dan mewajibkan Ant untuk mendanai 30% dari pinjaman apa pun yang bersumber bersama dengan bank, dibandingkan dengan 2% yang saat ini didanai oleh perusahaan.

"Langkah tersebut merupakan bagian dari penguatan pendekatan regulasi pemerintah terhadap konglomerat internet besar. Ini menunjukkan perhatian regulator tentang risiko yang ditimbulkan oleh perusahaan seperti Ant," catat Fitch Ratings.

Peraturan baru pemerintah China juga dimaksudkan untuk mencegah monopoli internet. Langkah tersebut membuat takut investor dan merugikan saham perusahaan teknologi China senilai US$ 250 miliar. Alibaba, JD (JD) dan Tencent (TCEHY) semuanya terpukul keras, tetapi saham mereka berhasil memulihkan sebagian dari kerugian tersebut.

Menurut Analis Morningstar, Dan Baker peraturan baru itu disebut dapat mengidentifikasi beberapa perilaku monopoli ilegal, seperti menuntut pedagang hanya memilih satu platform online, menjual di bawah biaya dan diskriminasi harga untuk konsumen.

(eds/eds)