Ampun! Saham Produsen Rokok Rontok Gara-gara Cukai Mau Naik 12,5%

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kamis, 10 Des 2020 16:37 WIB
Pemerintah akan menaikkan cukai rokok 23% dan harga jual eceran (HJE) 35% mulai tahun depan.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Saham emiten rokok rontok usai pengumuman kenaikan cukai hasil tembakau atau cukai rokok. Pemerintah akhirnya memutuskan cukai rokok sebesar 12,5% untuk 2021.

Dari data RTI, Kamis (10/12/2020), semua harga saham emiten rokok langsung turun usai pengumuman tersebut. Penurunan terjadi sejak sesi II dimulai hingga akhir perdagangan sore ini.

Gudang Garam Tbk (GGRM) misalnya yang tadinya naik 1.800 (3,78%) pada sesi I, sore ini langsung anjlok 3.325 poin (6,9%) ke level 4.4275. Saham GGRM diperdagangkan 13.439 kali dengan nilai Rp 450 miliar.

Sementara Bentoel International Inv. Tbk (RMBA) sore ini parkir di level 370 atau terkoreksi 4 poin (1%). Saham RMBA sepanjang hari ini bergerak di level 374-388.

Selanjutnya HM Sampoerna Tbk (HMSP) sore ini jatuh 6,9% atau 125 poin. Harga saham HMSP sore ini ada di level 1.670 setelah pada sesi I unggul di 1.850.

Kemudian Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM) sore ini malah stagnan di 595. Harga saham WIIM tak berubah dibanding kemarin, meski pada sesi I sempat melonjak ke 660.

Terakhir adalah Indonesian Tobacco Tbk (ITIC). Harga sahamnya rontok 65 poin sore ini (6,8%) ke level 880.

Kalangan pengusaha dan pelaku industri sendiri diketahui tetap meminta pemerintah untuk tidak menaikkan cukai rokok dengan tarif yang tinggi. Alasannya, industri saat ini sedang dalam masa sulit karena resesi dan pandemi Corona.

Adapun lima aspek yang menjadi pertimbangan kenaikan cukai rokok adalah prevalensi merokok pada anak-anak dan wanita, kesehatan, tenaga kerja, petani, rokok ilegal, dan terakhir mengenai penerimaan negara. Kenaikan ini tentu memicu adanya perubahan harga pada produk rokok sehingga diharapkan konsumsi rokok akan semakin berkurang.

(eds/ang)