Dana Asing Rp 47,89 Triliun 'Minggat' dari Indonesia

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 19:15 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih berada di level Rp 14.100. Dolar AS sempat tersungkur dari level Rp 14.500an hingga ke Rp 14.119 pada Sabtu pekan lalu.
Ilustrasi/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menghadiri penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2020. Dalam acara yang digelar secara virtual itu, Wimboh membeberkan dana asing Rp 47,89 triliun 'minggat' dari pasar modal Indonesia.

"Di tengah arus dana keluar asing di pasar modal, yaitu Rp 47,89 triliun di pasar saham per 29 Desember 2020 kemarin, dan Rp 86,83 triliun di pasar SBN per 28 Desember lalu," ungkap Wimboh, Rabu (30/12/2020).

Meski begitu, menurutnya indeks harga saham gabungan (IHSG) masih terus membaik di akhir tahun ini. Hal itu disebabkan oleh bertambahnya jumlah investor dalam negeri.

"IHSG masih mampu menunjukkan penguatan yang didorong oleh investor domestik, termasuk investor ritel," kata dia.

OJK mencatat, sepanjang 2020 ini ada peningkatan jumlah investor yang jauh jika dibandingkan dengan tahun 2019.

"Kenaikan jumlah investor pasar modal, 3,87 juta investor atau naik 56% dibandingkan tahun lalu, dan semakin solidnya dominasi investor ritel di Indonesia," ujar Wimboh.

Kondisi itu menurutnya membuat pasar modal Indonesia masih likuid, bahkan menunjukkan perdagangan tertinggi di ASEAN.

"Di sisi demand, tahun 2020 menjadi tahun kebangkitan bagi investor domestik. Minat investor domestik khususnya investor ritel semakin mendominasi di pasar saham. Selain itu, pasar modal kita juga tercatat masih likuid, tercermin dari naiknya rata-rata frekuensi perdagangan menjadi tertinggi di ASEAN," tuturnya.

Di sisi pasar SBN, menurutnya tetap menguat karena yield turun. Hal ini menurutnya memberikan ketertarikan terhadap negara-negara lain.

"Pasar SBN terus menguat dengan yield turun 108 basis poin YTD (year to date) dan memberikan imbal hasil yang masih menarik antar negara-negara se-kawasan. Penurunan ini merupakan insentif bagi korporasi untuk menggalang dana yang lebih murah melalui penerbitan surat utang di pasar modal. Dengan dukungan rezim suku bunga murah, saat ini merupakan momentum bagi kebangkitan pasar modal Indonesia," tutup Wimboh.

(hns/hns)