Bahayanya Beli Saham Pakai Utang, Bukan Cuan Malah Sengsara

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 17 Jan 2021 20:35 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Ramai di media sosial banyaknya investor saham baru yang nekat beli saham menggunakan uang panas. Mulai dari pinjaman online, uang arisan ibu-ibu PKK hingga gadai sertifikat tanah dan BPKB kendaraan bermotor.

Founder WH Project, William Hartanto mengingatkan berinvestasi di pasar modal tidak bisa main-main. Oleh karena itu dia menilai aksi investor baru yang berani membeli saham menggunakan utang terbilang kelewat nekat.

"Karena risiko pasar itu nggak terkendali dan timing dari pergerakan harga saham nggak terukur. Jadi kalau pakai uang pinjaman itu terlalu nekat," ucapnya saat dihubungi detikcom, Minggu (17/1/2021).

William menjelaskan, pergerakan saham di pasar modal sejatinya tidak bisa diukur. Oleh karena itu jika membeli saham menggunakan utang risikonya adalah saham yang dibeli belum tentu memberikan cuan sebelum utang itu jatuh tempo.

"Karena selagi menunggu harga saham naik, jika lama waktunya mereka bisa saja keburu harus lunasi pinjaman tersebut dan risiko lainnya, jadi sangat bahaya," ucapnya.

William mengingatkan sebelum terjun menjadi investor saham, baiknya mendapatkan edukasi yang benar tentang investasi saham. Setidaknya sudah memiliki bekal terkait strategi jual dan beli saham hingga risiko dalam berinvestasi saham.

"Ketika mereka nggak memiliki strategi buy/sell dan masuk ke pasar saham dengan dana darurat, bisa-bisa saham malah membuat mereka makin kesusahan," tutupnya.

(das/dna)