Soal Kabar Rights Issue Rp 14 T, Ini Penjelasan Dirut BRI

Vadhia Lidyana - detikFinance
Kamis, 21 Jan 2021 19:45 WIB
Direktur Utama BRI Sunarso
Direktur Utama BRI Sunarso/Foto: BRI
Jakarta -

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI sempat dihebohkan kabar aksi korporasi melalui rights issue sebesar Rp 14 triliun. Kabar itu juga sudah pernah ditepis oleh Sekretaris Perusahaan Aestika Oryza Gunarto.

Dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) BRI hari ini, Direktur Utama BRI Sunarso kembali menegaskan posisi perusahaan atas kabar tersebut. Menurut Sunarso, BRI belum membutuhkan pendanaan jumbo melalui rights issue untuk peningkatan pertumbuhan kredit.

"Artinya kita masih bisa menumbuhkan kredit dengan likuiditas yang ada. Rights issue untuk meningkatkan pertumbuhan kredit belum diperlukan," tegas Sunarso dalam RUPSLB virtual, Kamis (21/1/2021).

Ia memaparkan, pihaknya memang selalu menyediakan plafon untuk issue bond. Namun, menurutnya saat ini perseroan belum ada kebutuhan untuk menggunakan plafon issue bond tersebut.

"Kita selalu punya plafon, bukan rights issue, tetapi kita punya plafon untuk issue bond yang secara berkelanjutan, dan itu sewaktu-waktu kita bisa efektifkan. Tetapi melihat bahwa jumlah dana yang sekarang saya katakan sangat cukup untuk menumbuhkan kredit, maka rights issue atau issue bond yang terkait untuk memenuhi kebutuhan likuiditas dalam rangka penyaluran kredit, untuk sementara plafon mungkin belum kita gunakan," urainya.

Dalam RUPSLB itu, Sunarso juga memaparkan adanya pertumbuhan kredit sebesar 4,9% pada kuartal III-2020 jika dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy). Pertumbuhan kredit itu juga mengerek aset perseroan.

"Total aset perseroan mencapai Rp 1.447,85 T atau tumbuh 10,9% secara yoy. Dan pertumbuhan aset utamanya didorong oleh kredit yang mampu tumbuh," tutur Sunarso.

Tak hanya itu, BRI juga mencatat dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 1.131 triliun pada kuartal III-2020 atau tumbuh 18% yoy.

"Dalam hal ini dana murah atau current account and saving account (CASA) menyumbang komposisi sebesar 59%. Dengan demikian perseroan memiliki kondisi likuiditas yang sangat memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) mencapai 82,6%," pungkasnya.

Sebelumnya, isu tentang rights issue BRI berhembus. Disebutkan bahwa BRI berencana rights issue sebesar US$ 1 miliar atau Rp 14 triliun untuk memperkuat modal sebelum melakukan akuisisi.

"PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, bank BUMN dengan aset terbesar, sedang menjajaki rencana untuk mengumpulkan setidaknya $ 1 miliar melalui rights issue," tulis Bloomberg, Kamis (7/1/2021).

(ara/ara)