Wall Street di Awal Pekan 'Berotot' Menanti Stimulus Fiskal

Soraya Novika - detikFinance
Selasa, 26 Jan 2021 09:48 WIB
Traders work on the trading floor on the final day of trading for the year at the New York Stock Exchange (NYSE) in Manhattan, New York, U.S., December 29, 2017. REUTERS/Andrew Kelly
Ilustrasi/Foto: Reuters
Jakarta -

Rata-rata indeks saham utama AS pada perdagangan Senin (25/1) kemarin ditutup di level terbaiknya. Bahkan S&P dan Nasdaq masih ditutup pada level rekornya.

Indeks S&P 500 naik 13,89 poin atau 0,36% menjadi 3.855,36 dan Nasdaq Composite bertambah 92,93 poin, atau 0,69%, menjadi 13.635,99. Meski begitu, ada juga yang mengalami penurunan seperti Dow Jones Industrial Average yang turun 36,98 poin atau 0,12% menjadi 30.960.

Pergerakan harga saham di bursa AS sebenarnya masih diselimuti kekhawatiran investor soal stimulus fiskal sehingga mengurangi optimisme di awal pekan untuk mendapatkan laporan keuangan dari perusahaan berkapitalisasi besar (mega-cap).

Investor mengalihkan fokus mereka ke Senat AS, yang akan mengesahkan undang-undang bantuan COVID-19 sebelum persidangan pemakzulan mantan Presiden Donald Trump pada awal Februari mendatang.

Saham bergerak lebih rendah setelah Pemimpin Mayoritas Demokrat Chuck Schumer memperingatkan, pengesahan RUU stimulus mungkin saja bakal mengalami penundaan selama empat hingga enam minggu ke depan.

Pejabat dalam pemerintahan Presiden Joe Biden mencoba untuk mencegah kekhawatiran Partai Republik yang menilai proposal bantuan pandemi senilai $ 1,9 triliun terlalu mahal.

"Apa yang benar-benar menopang pasar adalah stimulus," kata Joe Saluzzi, co-manager perdagangan di Themis Trading di Chatham, New Jersey dikutip dari Reuters, Selasa (26/1/2021).

"Pasar menyukai uang, entah itu fiskal atau moneter, dan sekarang Anda memiliki keduanya. Jadi jika Anda menarik karpet dari rencana stimulus, itu mungkin menjadi masalah, tetapi mereka tidak akan melakukannya," sambungnya.

(eds/eds)