Jack Ma Mana Nih? China Melunak soal IPO Ant Group

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 27 Jan 2021 22:56 WIB
Jack Ma menghilang dari pandangan publik. Sebelumnya pemilik Alibaba dan Ant Group itu mengkritik regulator China pada konferensi di Shanghai pada Oktober 2020.
Foto: AP Photo
Jakarta -

Ant Group, induk dari Alipay yang didirikan Jack Ma berpeluang kembali melakukan penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO) di bursa Shanghai dan Hong Kong. Hal itu diungkapkan oleh Gubernur bank sentral atau People's Bank of China Gang Yi.

Untuk bisa melakukan IPO setelah sebelumnya dibekukan, Gang Yi menyarankan agar pendaftar saham Ant Group dapat dipertimbangkan kembali dalam situasi yang tepat.

"Saya mengatakan bahwa Anda hanya perlu mengikuti standar instruksi hukum, maka Anda akan mendapatkan hasilnya," kata Yi saat berbicara dalam virtual Forum Ekonomi Dunia seperti yang dilansir BBC, Rabu (27/1/2021).

Sebelum gagal melakukan IPO, Ant Group diprediksi dapat mengumpulkan pendanaan perdana hingga US$ 34,3 miliar atau setara Rp 486 triliun (kurs Rp 14.135).

Pembekuan itu dilakukan setelah Pendiri Alibaba Jack Ma memberikan kritik besar-besaran atas sistem keuangan di Negeri Tirai Bambu tersebut dalam pertemuan yang membahas teknologi keuangan pada Oktober 2020 lalu. Dalam forum yang didatangi para petinggi pemerintahan China, Jack Ma menyamakan sektor perbankan di sana didominasi dengan 'toko gadai'. Artinya, perbankan di China memberikan pinjaman dengan jaminan yang sangat besar dan sulit terjangkau oleh rakyat kecil. Jack Ma pun menyesali kurangnya inovasi pada sistem perbankan China.

Menurut sejumlah pakar, pembekuan IPO Ant Group merupakan hukuman dari pemerintah terhadap perkataan Jack Ma yang blak-blakan. Namun, pemerintah berdalih dan mengatakan adanya risiko besar pada stabilitas sistem keuangan China dari Ant Group.

Ant Group memang memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk menarik kredit dengan jaminan kecil. Menurut Gang Yi, hal itu menciptakan risiko.

"Manfaat itu sudah jelas, tetapi pada saat yang sama kita juga bisa melihat beberapa risiko terhadap informasi dan perlindungan konsumen serta beberapa potensi monopoli dan juga beberapa penyalahgunaan kekuasaan monopoli," pungkas Gang Yi.

(vdl/hns)