Rencana IPO Tokopedia Dinilai Tarik Perusahaan Digital Lain Masuk Bursa

Nurcholis Maarif - detikFinance
Sabtu, 06 Feb 2021 16:39 WIB
Kantor Pusat Tokopedia
Foto: dok. Tokopedia
Jakarta -

Tokopedia dikabarkan sudah melakukan strategi untuk bisa melantai di bursa saham tahun 2021 ini. Raksasa marketplace Indonesia itu disebut mengincar dana US$1 miliar atau setara Rp 14 triliun (kurs Rp 14.000/US$) dari pencatatan saham perdana (IPO) tahun ini.

Ekonom Senior INDEF, Aviliani menilai rencana IPO perusahaan digital seperti Tokopedia hingga Gojek ini sangat bagus. Hal ini juga dapat menarik perusahaan digital lain untuk melakukan hal yang sama.

"Menurut saya, kalau ini IPO sangat bagus. Karena selama ini kan IPO itu harus dua tahun untung dulu. Nah kan sedangkan mereka kan dalam proses yang mungkin keuntungannya itu baru beberapa waktu kemudian. Ini satu hal yang baik, karena dengan demikian mungkin nanti banyak yang melantai di bursa kalau peraturan-peraturannya itu lebih banyak relaksasi seperti sekarang," ujarnya dilansir dari CNBC Indonesia, Sabtu (6/2/2021).

"Kalau dulu kan aturannya sangat susah, harus dua tahun (untung) dulu, sehingga UKM kita juga nggak bisa melakukan IPO. Tapi dengan kondisi sekarang mau IPO ini akan bisa diikuti digital-digital yang lain, atau bisa e-commerce, bisa perusahaan digital lain, termasuk fintech bisa melakukannya," imbuhnya.

Lebih lanjut Aviliani mengingatkan agar perusahaan digital tersebut bisa membaca prospek ke depannya dengan baik. Lalu jangan sampai setelah IPO justru harga sahamnya jatuh.

"Nah memang jangan sampai setelah IPO terus kemudian harga sahamnya jatuh gitu yah. Jadi harus smart juga yah melihat prospek, karena kadang-kadang investor kita nih ada dua macam. Ada yang investor jangka pendek saja, yaitu yang trading yah. Ada yang invest sifatnya jangka panjang. Jadi harus baca prospektus dengan baik-baik," ujarnya.

Ia juga mengatakan proses digitalisasi yang sangat cepat menguntungkan investor untuk mendapat saham-saham baru. Selain itu, ini menjadi momentum untuk bisa diikuti oleh perusahaan digital yang lain.

"Ini menjadi satu momentum yang bisa diikuti oleh yang lain karena selama ini kan maju mundur. Masuk di bursa harganya seperti apa, apalagi dalam kondisi pandemi seperti ini kan orang paling takut masuk bursa karena pasti dianggap harganya pasti jatuh, tapi menurut saya ini suatu keberanian dalam kondisi pandemi seperti ini sudah mempersiapkan untuk IPO dan ini bisa diikuti yang lain," ujarnya.

"Oleh karena itu memang di bursa efek sendiri harus melihat bahwa nantinya jangan harus selalu untung, tapi bagaimana untungnya baru kemudian. Tetapi dibolehkan untuk IPO itu salah satu yang saya apresiasi untuk ke depannya," imbuhnya.

Sebagai informasi, diberitakan sebelumnya Tokopedia merencanakan IPO tahun ini. Namun belakangan ada dikabarkan Tokopedia akan melakukan merger dengan Gojek, meskipun kedua pihak enggan berkomentar. Info terbaru, Tokopedia kembali menunjuk mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebagai komisaris.

(ncm/hns)