Harga Minyak Naik, Wall Street Semringah

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 10 Feb 2021 08:35 WIB
Traders work on the trading floor on the final day of trading for the year at the New York Stock Exchange (NYSE) in Manhattan, New York, U.S., December 29, 2017. REUTERS/Andrew Kelly
Foto: Reuters
Jakarta -

Harga minyak dunia perlahan-lahan naik karena sentimen positif para investor akan permintaan minyak pasca pandemi. Pasar meyakini permintaan bahan bakar minyak (BBM) akan naik drastis usai pandemi, setelah setahun ini mengalami tekanan yang sangat signifikan.

Dilansir Reuters, Rabu (10/2/2021), harga minyak Brent naik 53 sen, atau 0,9% menjadi US$ 61,06 per barel. Kemudian, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk Maret berada di level US$ 58,36 per barel, naik 39 sen, atau 0,7%. Angka tersebut menunjukan harga tertinggi sejak Januari 2020.

Kenaikan tersebut memberikan dampak yang cukup signifikan pada saham-saham di Wall Street, tepatnya indeks saham Nasdaq Composite dan indeks saham global MSCI. Kedua indeks tersebut bergerak hingga ke level tertingginya pada penutupan perdagangan semalam. Harga minyak mendorong reli kedua indeks ke sesi ketujuh berturut-turut karena pendapatan yang kuat dan prospek pemulihan ekonomi mendukung sentimen investor.

Nasdaq Composite naik 20,06 poin, atau 0,14%, menjadi 14.007,70. Angka itu merupakan capaian tertinggi sepanjang masa untuk sesi kelima berturut-turut, sementara indeks Russell 2000 juga mencatat rekor penutupan tertinggi. Selain itu, indeks saham MSCI di seluruh dunia naik 0,17%.

Namun, kondisinya berbeda dengan indeks saham lainnya di Wall Street. Investor yang saat ini sedang beralih dari perusahaan-perusahaan teknologi berkapitalisasi besar ke sektor lain menyebabkan indeks S&P 500 dan Dow ditutup lebih rendah.

Dow Jones Industrial Average turun 9,93 poin, atau 0,03%, menjadi 31.375,83. Lalu, S&P 500 kehilangan 4,36 poin, atau 0,11% menjadi 3.911,23. Kondisi itu mematahkan kenaikan enam hari berturut-turut.

Di Wall Street, investor menunggu berita lebih lanjut tentang rencana stimulus US $ 1,9 triliun yang diusulkan Biden. Di sisi lain, persidangan pemakzulan bersejarah Donald Trump dengan tuduhan menghasut penyerangan mematikan di Capitol bulan lalu dimulai. Hal ini menjadikan Trump sebagai mantan presiden Amerika Serikat (AS) pertama yang diadili di Senat AS.

Pada intinya, investor masih optimistis dengan dukungan moneter dan fiskal dari regulator. Begitu juga dengan kondisi pendapatan sejumlah perusahaan yang kuat, dan prospek bahwa vaksin COVID-19 dapat mempercepat pemulihan AS dan negara lain. Menurut analis pasar, investor kesulitan menemukan hal negatif yang signifikan

"Anda tidak melihat uang keluar dari pasar dan menjadi uang tunai. Anda melihat uang keluar dari satu sektor dan diputar ke sektor lain untuk mempertahankan bias panjang secara keseluruhan," kata Managing Director of Equity Trading di Wedbush Securities Michael James.

Namun, kekhawatiran akan kecepatan pelaksanaan vaksinasi tetap ada. Begitu juga dengan efektivitas vaksin yang ada saat ini terhadap varian baru COVID-19.

(vdl/ara)