Hati-hati! Ada Modus Investasi Saham Berujung Pembobolan Rekening

Vadhia Lidyana - detikFinance
Sabtu, 13 Feb 2021 18:00 WIB
Saham PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) melejit pada perdagangan Selasa (5/1/2021) gegara Raffi Ahmad dan Ari Lasso mempromosikannya.
Ilustrasi/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Kasus penipuan menggunakan modus ajakan investasi saham semakin marak. Banyak grup-grup di aplikasi pesan singkat yang menawarkan investasi kepada anggota di grupnya. Penipu beraksi dengan meminta anggota grup mengirimkan sejumlah uang untuk berinvestasi di suatu saham dengan iming-iming imbal hasil yang besar.

Aksi seorang penipu yang membuat grup Telegram bodong menelan korban. Adinda (bukan nama sebenarnya) yang merupakan salah satu korban penipuan di grup Telegram sudah kehilangan uang hingga belasan juta rupiah. Kepada detikcom, ia menceritakan bagaimana dirinya bisa menjadi korban dari grup bodong tersebut.

"Jadi awalnya saya mau belajar saham. Saya cari-cari tahu dari akun-akun Instagram pemain saham. Saya juga main TikTok. Nah dari situ saya dapat informasi sebuah grup yang menawarkan belajar investasi saham, jadi ada kelasnya gitu," kata Adinda ketika dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Sabtu (13/2/2021).

Ia mengatakan, grup itu bernama Ternak Uang Official di aplikasi Telegram. Pembuat dari grup itu mencatut identitas seorang influencer yang sering memberi konten edukasi investasi saham. Identitas influencer tersebut dipakai sang penipu, mulai dari nama hingga foto profil.

"Saya lihat ada influencer, Timothy Ronald yang buka kelas belajar saham. Saya tertarik untuk ikut kelasnya, ada kelas 1-2 hari untuk pemula. Saya klik link-nya itu masuk ke Telegram saya. Setahu saya, Timothy Ronald ini punya Telegram. Tapi ada akun lain yang juga pakai nama dan foto Timothy. Nah saya salah klik link, jadi saya masuknya ke grup Telegram dari penipu itu," kata Adinda.

Ia mengatakan, dirinya bergabung dengan grup tersebut pada akhir 2020. Sampai awal bulan Februari ia mulai tertarik untuk berinvestasi dengan cara yang ditawarkan di grup tersebut. Sampai saat itu pula, dirinya masih belum menyadari bahwa grup tersebut adalah grup yang dibuat seorang penipu yang mencatut identitas orang lain.

"Nah itu saya mengisi formulir data diri. Saya nggak tahu kenapa saya kasih semua nama, alamat, email, dan nomor ponsel saya. Saya pertama ikut investasi itu Rp 5 juta, itu saya transfer," jelas Adinda.

Adinda mengirimkan uang itu melalui rekening BCA yang dimilikinya ke rekening BRI Syariah yang diberikan oleh sang penipu. Setelah itu, sang penipu meminta Adinda melakukan verifikasi dengan mengunjungi sebuah link. Dari sanalah pembobolan rekening Adinda dimulai.

"Di situ saya asal klik saja, terus pas dibuka ternyata itu nomor kartu ATM saya dan nomor pin saya kasih ke dia," ungkapnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2