Keuangannya Berdarah-darah, Apa Langkah Bakrie Telecom?

Aulia Damayanti - detikFinance
Jumat, 19 Feb 2021 11:58 WIB
Hasil perhitungan cepat (quick count) sementara sudah menunjukkan calon presiden Joko Widodo unggul terhadap capres Prabowo Subianto, Kamis (10/7/2014). Saham media milik Grup Bakrie dan MNC anjlok gara-gara menampilkan hasil quick count yang berbeda dengan media lain.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tengah mengalami keadaan buruk sejak bulan lalu. Mulai dari rencana akan didepak dari pasar modal hingga diketahui memiliki utang yang mencapai 2.133 kali lipat dari seluruh asetnya.

Sejak bulan lalu juga BTEL mendapatkan pemantauan ketat dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam memperbaiki kinerja keuangannya agar tidak ditendang dari pasar modal. Melalui surat yang diberikan kepada BEI, Kamis (11/2) BTEL menyampaikan perkembangan atau update pemulihan bisnis BTEL.

Dalam surat itu dituliskan bahwa BTEL telah dan terus melakukan upaya meningkatkan kinerja usaha dan keuangan dengan mengusung beberapa inisiatif baru dengan anak-anak perusahaan.

"Tantangan akibat pandemi COVID-19 yang dihadapi semua pelaku usaha sepanjang tahun 2020 sampai saat ini sedikit banyak tentunya mempengaruhi pencapaian BTEL di tahun 2020," kata BTEL.

BTEL mengungkap dalam pemulihan, perusahaan telah menggarap penyediaan sistem teknologi informasi yang terintegrasi dengan layanan bus listrik di Jakarta dan daerah lainnya.

"Kami memandang bahwa sistem teknologi terintegrasi dalam layanan transportasi merupakan keniscayaan yang akan meciptakan efisiensi dan keakuratan dalam operasional layanan transportasi." jelas BTEL.

Selain itu, perusahaan mengungkap tengah merintis layanan teknologi berbasis internet of things (IOT) yang saat ini diaplikasikan di industri pertambangan. Perusahaan juga mengatakan tengah memulai kegiatan usaha dan mengelola infrastruktur berbasis teknologi untuk industri penyiaran.

BTEL juga menyampaikan balasan surat BEI kepada BTEL pada 8 Februari lalu. Perusahaan pun merinci utang perusahaan. Tidak hanya itu, dibahas pula mengenai pengembalian saham dan transaksi saham lainnya, serta data rincian piutang perusahaan.

Semua laporan itu merupakan lanjutan perkembangan pemulihan bisnis BTEL yang disampaikan kepada BEI pada 22 Januari 2021 dan diskusi dengar pendapat BEI dan BTEL pada 28 Januari 2021.

Sebagai informasi, saham BTEL sempat berpotensi dikeluarkan dari papan perdagangan saham BEI. Sebab saham BTEL sudah disuspensi hampir dua tahun berturut-turut. Dalam keterbukaan informasi, BEI mengumumkan bahwa saham BTEL sudah dibekukan selama 20 bulan dari 27 Mei 2019.

Perusahaan itu tercatat memiliki utang yang cukup besar, yakni mencapai 2.133 kali lipat dari seluruh asetnya. Pada tahun 2019, total utang BTE mencapai Rp 13,35 triliun. Di tahun 2020, utangnya memang menurun menjadi Rp 9,6 triliun.

Perusahaan juga mencatat kerugian Rp 60,17 miliar. Padahal, di tahun 2019 perusahaan masih bisa mencetak laba bersih hingga Rp 7,17 miliar.

(eds/eds)