Investor Lepas Saham Tesla Gara-gara Bitcoin Anjlok, Kok Bisa?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 24 Feb 2021 12:50 WIB
Logo Tesla
Foto: REUTERS/Lucas
Jakarta -

Para investor Tesla Inc ramai-ramai menjual kepemilikan sahamnya setelah harga mata uang kripto bitcoin anjlok 11% menjadi US$ 48.207 atau setara Rp 679 juta (kurs Rp 14.085). Padahal, sebelumnya harga bitcoin sempat melambung ke level US$ 58.354 atau Rp 816,9 juta per keping pada Senin (22/2) lalu.

Akibatnya, saham Tesla yang baru saja membeli bitcoin hingga US$ 1,5 miliar atau sekitar Rp 21 triliun ikut anjlok. Dilansir dari Reuters, Rabu (24/2/2021), saham Tesla anjlok 13,4%.

Di sisi lain, saham Tesla mewakili sekitar 10% kepemilikan untuk ARK Innovation Exchange Traded Funds (ETF). Alhasil, Ark Innovation ETF (ARKK) juga berakhir 3,3% lebih rendah.

Dana yang diperdagangkan di ETF atau bursa berjangka belakangan ini memang hanya yang berfokus pada industri seperti blockchain, ganja, dan energi terbarukan. Dalam sepekan terakhir, industri-industri tersebut di ETF anjlok dan membuat investor gelisah.

Investor mungkin semakin waspada terhadap valuasi setinggi langit, sementara kenaikan imbal hasil Treasury baru-baru ini dapat meredupkan daya tarik saham dan investasi lain yang relatif berisiko.

"Kami telah berada dalam reli berkelanjutan dan ada banyak pengaruh dalam sistem. Koreksi diharapkan selama kenaikan dan tidak mengejutkan jika melihat siklus sebelumnya," Analis mata uang kripto dari platform Messari Ty Young.

Beberapa investor mungkin telah mempersiapkan downside di ETF. Ahli Strategi Derivatif di RBC Capital Markets Amy Wu Silverman mencatat, aktivitas opsi menunjukkan peningkatan permintaan perlindungan terhadap penurunan ARKK.

Menurutnya, sentimen bullish untuk banyak kepemilikan di ARK Innovation ETF tetap tinggi. Banyak aset yang harganya berubah pada hari Selasa telah mengalami reli terik selama setahun terakhir.

Di sisi lain, meski harga bitcoin tak lagi menanjak, tetap saja nilainya telah naik 68% selama 2021 ini, dan telah menerima banyak peluang untuk menjadi instrumen investasi utama dan alat pembayaran.

CEO MicroStrategy Michael Saylor mengatakan, dengan nilai total mata uang kripto sekitar US$ 1 triliun atau sekitar Rp 14.000 triliun dapat memasukkan kapitalisasi pasar emas sekitar US$ 10 triliun atau setara Rp 140.000 triliun.

Sayangnya, fluktuasi belakangan ini menyebabkan investor berhati-hati pada saham perusahaan yang berinvestasi di bitcoin, seperti Tesla.

Di sisi lain, para investor juga mulai fokus pada perusahaan yang mempertahankan peringkat environmental, social and governance (ESG) atau lingkungan, sosial dan tata kelola tetap tinggi.

Tesla sendiri telah lama berkampanye untuk memangkas emisi mobil global melalui penggunaan mobil yang ramah lingkungan, sejalan dengan prinsip ESG. Sayangnya, aksi Tesla berinvestasi pada bitcoin dinilai dapat membebani peringkat ESG-nya.

Simak juga video 'Elon Musk Salip Jeff Bezos Jadi Orang Terkaya di Dunia':

[Gambas:Video 20detik]



(vdl/eds)