Saham Bank Net Syariah (BANK) cs Menggila Terus, Ada Apa Gerangan?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 24 Feb 2021 19:15 WIB
Karyawan mengamati layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (29/09/2014). IHSG berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks itu ditutup pada level 5.142,01 atau rebound 0,18%,Sektor keuangan menjadi pendorong indeks dengan kenaikan 0,77%.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Saham-saham bank beberapa hari ke belakang melesat cukup signifikan. Hari ini pun beberapa emiten bank kembali bergerak di zona hijau.

Dilihat dari data perdagangan RTI, Rabu (24/2/2021) tercatat saham Bank Artha Graha Internasional (INPC) menguat 34% menuju level Rp 125 per lembar saham. Bank Neo Commerce (BBYB) juga ikut menguat 23% menuju Rp 810 per lembar saham.

Bank Net Indonesia Syariah (BANK) juga tak mau ketinggalan, sahamnya naik 21% menjadi seharga Rp 1.785 per lembar saham. Bank Ganesha (BGTG) juga menguat 16% ke level Rp 130 per lembar saham.

Bank MNC Internasional (BABP) pun naik 12% ke level Rp 62 per lembar saham, dan Bank BRI Agroniaga (AGRO) juga menguat 12% menuju Rp 1.415 per lembar saham.

Sentimen pembentukan bank digital menjadi pemicu utama saham-saham bank berada di zona hijau. Analis Panin Sekuritas William Hartanto mengatakan saham bank-bank mini ini banyak menjadi incaran investor karena kemungkinan akan banyak aksi korporasi untuk persiapan menjadi bank digital.

"Sentimen bank digital, merger, dan akuisisi juga. Jadi bank-bank kecil mulai dibeli dengan spekulasi atas kemungkinan adanya aksi korporasi tersebut," kata William kepada detikcom.

Vice President Research Artha Sekuritas Frederik Rasali juga mengatakan sentimen bank digital menjadi pemicu utama naiknya saham bank-bank mini ini. Dia mengatakan saat ini sedang terjadi tren akuisisi bank mini untuk menjadi bank digital.

"Sentimen utama (saham bank), adanya spekulasi trend akuisisi bank untuk digital banking, sehingga bank dengan nilai buku yang masih relatif kecil menjadi sasaran. Apa lagi yang memiliki infrastruktur yang disiapkan untuk ke digital banking," ungkap Frederik.

Sebagai informasi, bank mini sendiri adalah bank-bank yang masuk ke dalam kategori bank BUKU II. Bank-bank ini memiliki modal inti yang relatif kecil, antara Rp 1 triliun hingga Rp 5 triliun.

(hal/fdl)