Baru Mulai Jadi Investor Saham? Baca Dulu Tipsnya

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 07 Mar 2021 19:59 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5% ke level 4.891. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham siang ini.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Harus diingat pasar modal bukanlah tempat untuk bermain-main. Jika niat Anda benar-benar ingin berinvestasi saham maka ada beberapa hal yang perlu dipahami.

Jangan pernah menganggap pasar modal sebagai tempat berjudi yang bisa mendatangkan uang dengan mudah dan juga kehilangan uang dengan cepat. Jika Anda berpikiran seperti itu, bisa saja Anda juga akan bernasib sama dengan penjudi yang kalah taruhan besar.

Melansir Investopedia, Minggu (7/3/2021) bagi investor pemula hal yang penting pertama adalah membuka lebar mata Anda. Sangat penting bagi investor untuk mengikuti berita dan opini tentang pasar dan juga perusahaan tercatat.

Pelaku pasar memang wajib melakukan penelitian pasif dengan membaca berita keuangan dan mengikuti kabar tentang industri terkini. Dengan mengikuti berita-berita terkini bisa menjadi rujukan dalam memilih saham.

Misalnya di negara berkembang seperti Indonesia memiliki banyak masyarakat kelas menengah baru. Mereka cenderung berperilaku konsumtif dan terus merasa haus dengan barang-barang baru.

Nah dengan di negara seperti Indonesia ini tentunya sering terjadi lonjakan permintaan terhadap produk dan komoditas tertentu. Jika sebuah emiten memiliki produk yang sedang ramai diminati, maka tentu sahamnya layak untuk dipertimbangkan.

Tapi itu saja tak cukup, sebagai investor tentu harus tetap bersikap kritis. Bandingkan informasi atau berita yang didapat dengan pengumuman atau siaran pers resmi yang diterbitkan oleh emiten.

Ada baiknya bagi investor pemula agar memilih saham-saham berdasarkan indeks yang sudah dibuat oleh otoritas. Indeks-indeks yang ada di pasar modal dibuat BEI tentunya untuk memudahkan investor memilih saham.

Misalnya indeks LQ45 merupakan indeks yang berisi saham-saham dengan likuiditas tinggi. Saham-saham tersebut tentu cocok bagi investor pemula. Ada juga indeks-indeks lainnya yang mungkin cocok dengan karakter para investor.

Jangan lupa juga untuk memantau laporan keuangan para emiten. Mungkin ada dari investor pemula yang tidak paham membaca laporan keuangan, tapi setidaknya Anda akan tahu tren keuangan perusahaan dalam beberapa waktu kebelakang apakah merugi atau mendulang keuntungan. Namun ada baiknya juga Anda belajar membaca laporan keuangan.

Jangan pernah menganggap bahwa saham dengan harga rupiah yang rendah adalah murah. Misalnya saham emiten A harganya Rp 50 per lembar dianggap jauh lebih murah ketimbang saham B yang nilainya Rp 5.000. Padahal itu salah besar.

Faktanya adalah harga saham tidak sama dengan nilai saham. Contoh saham A tadi yang nilainya Rp 50, memang secara harga dia rendah sekali, tapi Rp 50 merupakan teritori paling dasar dari nilai saham.

Emiten-emiten yang sahamnya bernilai Rp 50 per lembar biasanya memiliki kinerja buruk hingga turun terus. Sehingga biasanya yang sudah menyentuh Rp 50 sahamnya tidur sangat lama. Tentu ini merupakan saham yang patut dihindari.

Kebanyakan orang percaya bahwa nilai saham ditunjukkan oleh harganya. Tentu itu bukan pemikiran yang benar. Harga saham hanya memberitahu Anda nilai perusahaan saat ini atau nilai pasarnya.

Jadi, harga mewakili seberapa banyak saham diperdagangkan atau harga yang disepakati oleh pembeli dan penjual dalam transaksi di pasar modal. Simpelnya jika pembeli lebih banyak daripada penjual, harga saham akan naik. Jika ada lebih banyak penjual daripada pembeli, harga akan turun.

Misalnya, jika perusahaan A memiliki kapitalisasi pasar Rp 100 miliar dan memiliki 10 miliar saham, sedangkan Perusahaan B memiliki kapitalisasi pasar Rp 1 miliar dan Rp 100 juta saham, kedua perusahaan tersebut akan memiliki harga saham Rp 10. Tetapi perusahaan A bernilai 100 kali lebih besar dari pada perusahaan B.

Pada umumnya para investor menggunakan valuasi ketika memilih saham yang ingin dibeli. Ada banyak cara untuk melihat valuasi sebuah saham yang umumnya mengacu pada beberapa rasio seperti Price Earning Ratio (PER), Price Book Value (PBV), Debt Equity Ratio (DER).

Rasio-rasio tersebut bisa dibandingkan dengan industri atau saham sejenis lainnya. Misalnya saham A memiliki PBV 0,75x, sementara saham lain dalam satu sektor PBV-nya mencapai 3x, artinya saham itu terbilang murah. Tapi hati-hati juga, karena ada saham yang murah karena memang fundamentalnya sudah hancur.



Simak Video "Pemerintah Diminta Atur Kriteria Pembicara Saham"
[Gambas:Video 20detik]
(das/dna)