Butuh Modal, BTN Rights Issue Rp 5 T Tahun Depan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 10 Mar 2021 18:35 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) akan menerbitkan rights issue untuk penguatan permoadalan. Wakil Direktur Utama BTN Nixon LP Napitulupu mengungkapkan tahun depan BTN mengincar dana sebesar Rp 5 triliun.

Nixon menyebutkan kebutuhan perseroan memang Rp 5 triliun dengan komposisi Rp 3 triliun dari pemegang saham dwiwarna. "Lalu Rp 2 triliun dari saham publik senilai Rp 5 triliun," kata dia dalam konferensi pers, Rabu (10/3/2021).

Dia menjelaskan hasil rights issue ini digunakan untuk permodalan perseroan dalam mendanai pembiayaan program sejuta rumah tahap dua. Selain itu perseroan juga butuh modal untuk rencana anorganik seperti akuisisi perusahaan asuransi jiwa, modal ventura dan manajer investasi untuk mendukung bisnis perseroan dengan Tapera.

"Untuk memperkuat pertumbuhan capital karena kami harus mendorong pembangunan sejuta rumah tahap II. Di mana kebutuhan modal kami, apabila tidak dilakukan maka CAR kami akan terbatas sehingga ekspansi sulit tercapai," tambah dia.

Nixon menyampaikan, rencana ini memang masih dalam pembahasan dengan pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas seperti Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan.

"Ini masih diskusi dengan dua kantor kementerian. Kantor Kementerian BUMN dan Kementerian Keuangan. Jadi kita sudah diskusi dengan BUMN beberapa kali dengan Kemenkeu sudah jalan sekali di level teknis belum ke ibu menteri," jelasnya.

Nixon berharap rencana tersebut bisa diputuskan sebelum nota keuangan 2021. "Mudah-mudahan sudah bisa mendapat keputusan sebelum 17 Agustus 2021 atau sebelum nota keuangan," jelas dia.

(kil/zlf)