Duh AirAsia Rugi Rp 8,5 T, Sahamnya Langsung Terjun Bebas

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 30 Mar 2021 18:47 WIB
Sejak akhir Maret, sebagian besar armada AirAsia Group yang berjumlah 282 pesawat telah terparkir di beberapa bandara di Asia. Di antara jumlah tersebut terdapat 28 unit pesawat yang terparkir di 4 lokasi di Indonesia sejak 1 April 2020 yaitu Jakarta, Denpasar, Medan, dan Surabaya.
Foto: AirAsia
Jakarta -

Maskapai berbiaya rendah asal Malaysia AirAsia Group Bhd mencatat kerugian besar akibat lockdown yang terjadi di berbagai negara. Hal ini menyebabkan operasional maskapai terganggu dan turut mempengaruhi kinerja perusahaan.

Namun Grup Chief Executive AirAsia Tony Fernandes mengungkapkan masih ada harapan untuk memulihkan kondisi AirAsia dalam waktu dua tahun.

Tony mengaku optimis jika bisnis perjalanan udara internasional bisa berangsur normal pada paruh kedua tahun ini. Karena adanya program vaksinasi yang mulai masif dilakukan di berbagai negara.

Rugi bersih AirAsia pada periode Oktober - Desember tercatat sebesar 2,44 miliar ringgit atau setara dengan US$ 590,72 juta atau sekitar Rp 8,5 triliun (asumsi kurs Rp 14.400).

Dikutip dari Reuters pendapatan Air Asia tercatat turun 92% menjadi 267,4 juta ringgit karena penyusutan kapasitas hingga 88%. Hal ini disebabkan karena tak ada penerbangan di Malaysia, Filipina dan Indonesia.

"Sebagian besar kerugian ini karena adanya depresiasi bunga dan ada kewajiban sewa sebesar 654,2 juta ringgit," tulis AirAsia dikutip dari Reuters, Selasa (30/3/2021).

Utang AirAsia per 31 Desember 2020 tercatat hampir 3 kali lipat menjadi 1,28 miliar ringgit. Naik dari periode tahun lalu yang sebesar 428,9 juta. Memang jumlah penumpang tercatat turun hingga 90% dibandingkan tahun lalu.

Sekarang AirAsia sedang berupaya mengumpulkan 2,5 miliar ringgit untuk pendanaan saat mengatasi pandemi. Akhir pekan ini pihaknya mengharapkan bisa meraih pinjaman 1 miliar ringgit dari bank-bank di Malaysia.

Akibat kerugian ini saham AirAsia tercatat turun hingga 6,2% pada sesi pertama perdagangan di bursa Malaysia. Analis Isaac Chow menyebutkan pada 2022 AirAsia masih akan mengalami kerugian bersih hingga 92 juta ringgit. Hal ini karena adanya potensi pemulihan yang lebih lambat dari proyeksi pariwisata internasional.

AmInvestment Bank menyebutkan AirAsia membutuhkan penopang likuiditas untuk menjaga kinerja keuangannya. Lembaga penelitian ini menyebutkan memang prospek industri perjalanan udara dan maskapai sudah mulai menggeliat.



Simak Video "Traveler Keliling Indonesia Cuma Bayar Rp 1,5 Juta di AirAsia"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ang)