Khawatir Inflasi Melonjak, Wall Street Gagal Cetak Rekor Lagi

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 11 Mei 2021 08:57 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Pasar saham utama Amerika Serikat (AS), Wall Street ditutup lebih rendah pada awal pekan ini. Hal itu disebabkan oleh kekhawatiran investor terhadap inflasi yang berpotensi melonjak.

Saham industri kesehatan dan perawatan membatasi penurunan indeks Dow Jones, rata-rata saham blue chip berbalik arah di akhir sesi, setelah tiga hari cetak rekor berturut-turut.

"Kepemimpinan pasar tidak melakukan semuanya dengan baik tahun ini. Ada rotasi umum dari pertumbuhan ke pasar bagian lain," kata Paul Nolte, manajer portofolio di Kingsview Asset Management di Chicago yang dikutip dari Reuters, Selasa (11/5/2021).

Peningkatan permintaan bertolak belakang dengan pasokan bahan bakar yang terbatas sehingga memicu melonjaknya inflasi.

Tingkat imbal balik pada Treasury Inflation Protected Securities (TIPS) 5 tahun dan 10 tahun masing-masing menyentuh level tertinggi sejak 2011 dan 2013.

"Masih ada beberapa dorongan dan tarikan, apakah pasar percaya inflasi bersifat sementara atau sesuatu yang akan bertahan," kata Nolte.

Kekhawatiran inflasi akan menjadi perhatian investor ketika Departemen Tenaga Kerja merilis laporan CPI terbaru pada Rabu nanti.

Dow Jones Industrial Average turun 34,94 poin atau 0,1% menjadi 34.742,82. S&P 500 anjlok 44,17 poin atau 1,04% menjadi 4.188,43. Nasdaq Composite turun 350,38 poin atau 2,55% menjadi 13.401,86.

Dari 11 sektor utama di S&P 500, saham-sama perusahaan teknologi mengalami penurunan yang paling tinggi, yaitu terjun 2,5%.



Simak Video "Wall Street Ikut 'Terinfeksi' Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/das)

Tag Terpopuler