2 Usaha Properti Lippo Group Tekor hingga 12 Kali Lipat di 2020

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 11 Mei 2021 20:00 WIB
PT Lippo Karawaci melakukan penandatanganan kerjasama dengan PT Persero, sebagai Main Contractor pembangunan menara apartemen The Bloomington KVR, Kamis (20/12), menara apartemen ketujuh yang merupakan menara termewah di kawasan luxurious integrated resort development Kemang Village, Jakarta. File/detikFoto.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Dua unit usaha sektor properti milik Grup Lippo mengalami kinerja negatif sepanjang tahun 2020. Kerugian tercatat pada keuangan PT Lippo Karawaci Tbk dan PT Lippo Cikarang Tbk.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan hari ini, Selasa (11/5/2021), Lippo Karawaci atau yang berkode saham LPKR mengalami kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 8,89 triliun sepanjang tahun 2020 atau sekitar empat kali lipat dibanding periode sebelumnya.

Kerugian tersebut meningkat dari catatan tahun 2019 lalu, saat itu Lippo Karawaci mencatatkan kerugian hanya mencapai Rp 1,98 triliun.

Pendapatan perusahaan juga mengalami penurunan 2,87% menjadi Rp 11,96 triliun di tahun 2020. Padahal tahun sebelumnya pendapatan LPKR sejumlah Rp 12,32 triliun.

Di sisi lain, anak usaha LPKR, Lippo Cikarang juga ikut mencatatkan kerugian pada keuangannya di tahun 2020. Tercatat, kerugian perusahaan yang berkode saham LPCK ini menyentuh Rp 3,65 triliun atau sekitar 12 kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2019, LPCK masih mencatatkan keuntungan sebesar Rp 310,19 miliar.

Namun, pendapatan Lippo Cikarang justru mencatatkan kinerja positif. LPCK mencatatkan kenaikan pendosa sebesar 8,82% menjadi Rp 1,84 triliun. Pada tahun sebelumnya pendapatan mereka hanya sebesar Rp 1,69 triliun.

Usai merilis laporan keuangan, saham LPKR terpantau berada di zona merah. Turun 2,45% ke level Rp 199 per lembar saham, atau melemah 5 poin.

Hal yang sama juga terjadi pada saham LPCK yang juga parkir di zona merah. Sahamnya melemah 100 poin ke level Rp 1.350 per lembar saham, atau turun 6,90%.

(hal/eds)