China Izinkan Warganya Punya 3 Anak, Saham Produk Bayi Terbang!

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 02 Jun 2021 08:46 WIB
Jakarta -

China melonggarkan kebijakan keluarga berencana dengan mengizinkan warganya memiliki maksimal tiga anak. Kabar itu seakan menjadi rezeki nomplok bagi investor pembuat kereta bayi, hingga susu formula.

Dilansir dari CNN, Rabu (2/6/2021), saham yang terkait dengan produk bayi dan layanan bersalin melonjak di China dan Hong Kong pada Senin (31/5). Hal itu terjadi setelah pemerintah mengumumkan perubahan kebijakan keluarga berencana untuk mencegah krisis demografi.

Saham Goodbaby, yang membuat produk anak-anak, melonjak 31% di Hong Kong. Suzhou Basecare Medical Co., yang menawarkan tes genetik untuk pasangan yang ingin menjalani IVF (in vitro fertilization/bayi tabung), juga naik 15%.

Jinxin Fertility Group, yang menyediakan layanan reproduksi, naik hampir 18%, sementara Aidigong Maternal & Child Health, yang menawarkan layanan kesehatan bersalin, meningkat 22%.

Beingmate, produsen susu formula utama naik 8% di Shenzhen. Goldlok Holdings, yang membuat kereta listrik dan boneka, melonjak 10%. Pembuat pakaian Lancy naik 7%. Hang Seng (HSI) Hong Kong naik tifertilization hari Senin, sedangkan Shenzhen Composite naik 1,1%.

Pimpinan tertinggi Partai Komunis China, pada Senin (31/5) membuat keputusan mengizinkan pasangan memiliki hingga tiga anak. Meskipun tidak dikatakan kapan perubahan kebijakan akan diterapkan.

Keputusan itu terjadi setelah tiga minggu Beijing menerbitkan sensus 2020, yang menunjukkan populasi China tumbuh pada tingkat paling lambat dalam beberapa dekade. Dampaknya, memberi kekhawatiran soal angkatan kerja yang menuai dan stagnansi ekonomi.

Sebelumnya China memberlakukan 'kebijakan satu anak' selama lebih dari 35 tahun saat Beijing mencoba mengatasi kelebihan penduduk dan mengurangi kemiskinan.

Pada tahun 2015, pemerintah China mengumumkan bahwa mereka melonggarkan pembatasan untuk mengizinkan hingga dua anak per keluarga. Tetapi tingkat kelahiran negara itu terus turun hampir 15% dari tahun-ke-tahun hingga 2020.

(aid/fdl)

Tag Terpopuler