Naik Nyaris 14.000% Sejak IPO, Saham DCII Anthoni Salim Lebih Gila dari Tesla

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 17 Jun 2021 10:55 WIB
Saham PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) melejit pada perdagangan Selasa (5/1/2021) gegara Raffi Ahmad dan Ari Lasso mempromosikannya.
Naik Nyaris 14.000% Sejak IPO, Saham DCII Lebih Gila dari Tesla/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) begitu menarik perhatian publik pasar modal. Bagaimana tidak saham DCII sudah naik belasan ribu persen dari harga penawaran umum perdana (IPO).

Saham DCII sendiri baru dicatatkan di papan perdagangan pada 6 Januari 2021. Saat itu perusahaan melepas sebanyak 357,56 juta saham baru yang setara dengan 15% dari modal disetor dan ditempatkan perseroan, dengan harga penawaran sebesar Rp 420 per saham.

Jika dihitung dari harga penutupan kemarin di level Rp 59.000, artinya saham DCII sudah naik 13.947% dari harga IPO. Bayangkan hanya dalam waktu sekitar enam bulan harga sebuah saham sudah naik begitu tinggi.

Mantan Direktur Utama Bursa Efek Indonesia yang kini aktif menjadi investor, Hasan Zein Mahmud menilai apa yang terjadi di saham DCII sudah melebihi kehebohan dari saham Tesla.

"Investor Amerika Serikat menganggap saham TSLA (Tesla) sebagai 'keajaiban', karena harganya naik 160 kali lipat dalam kurun 10 tahun sejak IPO. Nah saham DCII adalah keajaiban di puncak keajaiban. Naik hampir 150 kali dalam kurun waktu enam bulan sejak IPO! Saya belum pernah membaca peristiwa seperti ini selama 45 tahun menjadi pelayan di pasar modal," kata Hasan dalam pesan tertulisnya dikutip Kamis (17/6/2021).

Menurutnya hal yang membuat saham DCII begitu menarik perhatian pelaku pasar adalah karena melihat masa depan yang besar dari transformasi ekonomi Indonesia ke arah digital. Dalam transformasi yang cepat itu maka tentu dibutuhkan pusat data yang disediakan oleh perusahaan.

"Tapi berapa besarkah potensi bisnis pusat data beberapa tahun ke depan? Salah satu tulisan yang pernah saya baca memperkirakan nilai bisnis data center hingga 2025 masih berkisar US$ 4 miliar per tahun," ucapnya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.