Lesu Berhari-hari, Wall Street Melesat Lagi

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 22 Jun 2021 08:33 WIB
Pusat bisnis di New York, Wall Street terlihat kosong melompong sebagai dampak
 pandemi Covid-19, Minggu (29/3/2020).
Foto: Anadolu Agency via Getty Images/Anadolu Agency
Jakarta -

Indeks harga saham di Wall Street melonjak pada perdagangan Senin, memperbaiki keadaan setelah penurunan beruntun pada pekan lalu.

Dilansir CNN, Selasa (22/6/2021), Indeks Dow Jones ditutup naik 1,8% atau hampir 590 poin. Indeks S&P 500 (SPX) naik 1,4%. Indeks Nasdaq Composite yang berfokus pada teknologi berakhir naik 0,8%.

Dow menghentikan penurunan beruntun selama lima hari yang terpanjang sejak Januari, sementara S&P mencatat kenaikan pertama setelah empat hari mengalami penurunan beruntun sebagai yang terpanjang sejak Februari.

Rebound yang terjadi pada Senin adalah adalah hari terbaik S&P dalam waktu sekitar lima minggu, dan kinerja terbaik Dow sejak awal Maret.

Kejatuhan pasar saham baru-baru ini terjadi setelah pembaruan kebijakan Federal Reserve minggu lalu yang membuka jalan bagi kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan.

Proyeksi The Fed menunjukkan suku bunga akan meningkat pada 2023, meskipun beberapa pejabat bank sentral bahkan berpikir kenaikan suku bunga akan layak tahun depan. Pada hari Jumat, Presiden Fed St. Louis James Bullard mengatakan selama wawancara dengan CNBC bahwa dia yakin suku bunga harus dinaikkan segera setelah akhir 2022.

Suku bunga yang lebih tinggi dianggap negatif untuk saham, bahkan di tengah ekonomi yang lebih kuat sekalipun karena itu berarti biaya pinjaman yang lebih tinggi bagi perusahaan.

Untuk saat ini, bagaimanapun, tarif masih rendah dan itu tidak akan berubah dari satu hari ke hari berikutnya.

"Jelas bahwa ekonomi membaik dengan kecepatan tinggi, dan prospek jangka menengah sangat baik. Tetapi data dan kondisi belum cukup berkembang bagi FOMC untuk mengubah sikap kebijakan moneternya dari dukungan kuat untuk pemulihan ekonomi," kata Presiden Fed New York John Williams saat berpidato di Midsize Bank Coalition of America.

Ketika kinerja pasar saham membaik, hal sebaliknya dialami bitcoin yang turun 8% sekitar waktu penutupan pasar saham New York. Satu bitcoin diperdagangkan sekitar US$ 32.600 menurut data Coindesk.

"Bitcoin perlu mempercepat transisi penambangan keluar dari China," kata Edward Moya, analis pasar senior di Oanda.

Tonton juga Video: Dolar AS 'Perkasa' Tapi Dibungkam Rupiah

[Gambas:Video 20detik]



(toy/eds)