Laba Induk Tiktok Melonjak 93%, Tembus Rp 274 T

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 18 Jun 2021 09:30 WIB
FILE PHOTO: A new Bytedance sign is seen on the facade of its headquarters in Beijing, China August 8, 2018. REUTERS/Stringer/File Photo ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. CHINA OUT.
Foto: Stringer/Reuters
Jakarta -

Pendapatan induk TikTok, ByteDance naik lebih dari dua kali lipat di 2020. Keterangan tersebut berdasarkan pernyataan seorang sumber kepada CNBC.

Pendapatan tahun lalu mencapai US$ 34,3 miliar, naik 111% tahun-ke-tahun. Pendapatan tersebut setara Rp 496,2 triliun (kurs Rp 14.467).

Kemudian, berdasarkan keterangan seseorang yang menghadiri pertemuan tersebut, laba kotor perusahaan naik 93% menjadi US$ 19 miliar atau sekitar Rp 274 triliun.

ByteDance memiliki 1,9 miliar pengguna aktif bulanan pada akhir 2020 di semua platformnya termasuk aplikasi video pendek TikTok yang sangat populer, Douyin versi China, dan aplikasi agregasi berita Toutiao.

Perusahaan juga mempekerjakan mantan eksekutif Xiaomi Shou Zi Chew untuk menjadi chief financial officer baru awal tahun ini, yang menandakan bahwa perusahaan tersebut dapat bersiap untuk penawaran umum perdana.

Kerugian operasi ByteDance 2020 adalah US$ 2,1 miliar versus laba operasi US$ 684 juta tahun sebelumnya. Kerugian itu terutama disebabkan oleh biaya kompensasi berbasis saham untuk pemegang saham. Itu masih berdasarkan keterangan sumber yang tak ingin identitasnya diketahui.

Perusahaan internet China telah berhasil menemukan kesuksesan secara internasional dengan TikTok, aplikasi video pendek yang populer untuk menari dan lain sebagainya. Periklanan adalah bagian penting dari pendapatan ByteDance di platformnya, tetapi telah mulai mendorong ke area baru seperti game dan mengadu diri dengan beberapa raksasa teknologi China lainnya seperti Tencent.

Namun, ini merupakan tahun yang sulit bagi perusahaan. ByteDance dijuluki sebagai ancaman keamanan nasional oleh pemerintahan mantan Presiden Donald Trump, dan diperintahkan untuk melepaskan bisnis TikToknya di AS. The Wall Street Journal melaporkan tahun ini bahwa kesepakatan untuk menjual TikTok telah ditangguhkan tanpa batas waktu.

Di China, ByteDance telah terjebak dalam tindakan keras peraturan yang lebih luas di sektor teknologi negara itu. Douyin, TikTok versi Tiongkok, bersama dengan 104 aplikasi lainnya dipanggil oleh Administrasi Ruang Siber Tiongkok untuk pengumpulan data pribadi secara ilegal dan diminta untuk memperbaiki masalah tersebut.

Perusahaan juga akan menjalani perubahan manajemen kunci tahun ini. Zhang Yiming, salah satu pendiri ByteDance, akan mengundurkan diri dari perannya sebagai CEO pada akhir tahun dan beralih ke peran strategi utama. Salah satu pendiri lainnya, Liang Rubo yang saat ini menjabat sebagai kepala sumber daya manusia akan mengambil alih sebagai CEO.

(toy/eds)