Pendapatan RI Turun Kelas, Ngaruh ke Pasar Modal Nggak?

Siti Fatimah - detikFinance
Kamis, 08 Jul 2021 15:50 WIB
Hasil perhitungan cepat (quick count) sementara sudah menunjukkan calon presiden Joko Widodo unggul terhadap capres Prabowo Subianto, Kamis (10/7/2014). Saham media milik Grup Bakrie dan MNC anjlok gara-gara menampilkan hasil quick count yang berbeda dengan media lain.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Dunia mengumumkan peringkat Indonesia turun menjadi negara lower middle income. Itu artinya Indonesia turun kelas dan kembali menjadi negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Lalu apakah kondisi tersebut berpengaruh pada investasi di pasar modal terutama bagi investor perorangan?

Direktur Utama PT Trimegah Asset Management, Anthony Dirga menilai, kondisi tersebut harus direspons dengan optimistis bahwa RI dapat kembali menaikkan posisinya. Pihaknya pun sempat melakukan beberapa riset mengenai hal tersebut.

"Saya kira kita sebagai warga negara Indonesia janganlah berkecil hati ya, nggak usah lah kita pesimis terhadap negara sendiri. Sekarang Gross Domestic Product (GDP) kita berkapita sekitar level sedikit 4200-4300 tergantung asumsi mana yang kita gunakan," kata Anthony dalam konferensi pers public expose Trimegah Sekuritas secara virtual, Kamis (7/7/2021).

Dia mengatakan, dari hasil riset yang membedakan antara Indonesia dengan negara maju seperti China dan Amerika kuncinya berada di tingkat GDP per capita.

"Nah kita sudah melakukan riset bahwa pada saatnya ketika kita membandingkan Indonesia dengan negara tetangga yang sudah lebih maju seperti China atau Amerika itu ternyata ada magic numbernya yaitu GDP per capita US$ 5.000," ujarnya.

Angka tersebut akan menjadi pemantik Indonesia untuk meningkatkan AUM (Asset Under Management) yang saat ini baru menyentuh 3,7% untuk industri terhadap GDP Indonesia. Menurunnya, AUM akan melonjak secara eksponensial.

"Jadi hanya masalah waktu," ujarnya.

Di sisi lain, muncul pertanyaan kapankah RI dapat mencapai GDP per capita 5.000 US tersebut. Anthony menjelaskan, tergantung pada asumsi yang digunakan bisa tercapai sekitar 3-4 tahun ke depan.

"Jadi kita sudah lihat ada angka-angka yang sangat optimis menurut saya yaitu jumlah partisipasi investor di pasar modal mencapai sekitar 6 juta di bulan Juni. Itu memang jumlah investor tapi AUM-nya belum ikut karena akan ada delay," imbuhnya.

"Saya kira hanya masalah waktu mungkin paling cepat 3 tahun lagi, 5-6 juta investor yang masuk ke pasar modal ini nanti seiring berjalan waktu akan bertambah income-nya dan pada saat itu AUM di reksadana, pasar modal akan jauh lebih besar lagi," ungkapnya.

Tonton video 'Duh! RI Turun Kelas Jadi Negara Penghasilan Menengah ke Bawah':

[Gambas:Video 20detik]



(eds/eds)