Dolar AS Kena 'Ghosting' RI, Apa Dampaknya?

Tim detikcom - detikFinance
Sabtu, 14 Agu 2021 12:15 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah akhirnya tembus ke level Rp 15.000. Ini adalah pertama kalinya dolar AS menyentuh level tersebut pada tahun ini.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Indonesia dan sejumlah negara sepakat menggunakan mata uang lokal untuk melakukan transaksi. Melalui Local Currency Settlement (LCS), transaksi antarnegara menggunakan mata uang lokal masing-masing.

Hal ini dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Biasanya, untuk melakukan transaksi perdagangan, harus mengkonversi mata uang lokal ke dolar AS terlebih dahulu dan kemudian dikonversi lagi ke mata uang negara tujuan.

Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan (DPPK) Bank Indonesia (BI) Donny Hutabarat mengungkapkan LCS ini bisa untuk penyelesaian transaksi perdagangan dan investasi langsung internasional.

Selain itu biaya transaksi valas juga lebih efisien dengan direct quotation. Lalu ada juga diversifikasi eksposur mata uang non dolar AS bagi pelaku pasar dan pengembangan pendalaman pasar keuangan.

"Dengan adanya penguatan kerangka transaksi mata uang lokal ini sejak 2021 maka kegiatan remitansi seperti pendapatan pekerja migran Indonesia dan tenaga kerja asing, biaya sekolah dan biaya hidup bisa dilakukan melalui bank ACCD," kata dia dalam Taklimat Media beberapa waktu lalu.

Transaksi ini akan memudahkan dan membuat biaya transaksi remitansi jadi lebih murah karena tak perlu ada proses konversi pengiriman uang ke dolar AS kemudian ke mata uang negara tujuan.

"Remitansi ini tentunya akan lebih murah, kan dia tidak perlu dikonversi jadi untung di spread, jadi kalau mau Malaysia Ringgit bisa langsung ke MYR di Indonesia," ujarnya.

Apa manfaatnya ya? Cek halaman berikutnya.

Direktur Eksekutif Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi mengungkapkan lebih dari 90% perdagangan Indonesia dengan negara mitra baik di kawasan Asia maupun luar Asia saat ini masih menggunakan dolar AS.

"Dominasi dolar AS sebagai settlement currency dalam transaksi perdagangan dan investasi menimbulkan ketergantungan yang tinggi terhadap dolar AS di pasar domestik," kata dia dalam Taklimat Media, Jumat (6/8/2021).

Volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berlebihan dapat menimbulkan dampak negatif terhadap stabilitas harga dan kemampuan pelaku usaha dalam menjalankan berbagai transaksi dengan pihak luar negeri.

Oleh karena itu, dalam rangka mencapai dan memelihara stabilitas nilai tukar rupiah serta mendorong pendalaman pasar keuangan non dolar AS di dalam negeri. Bank sentral mengupayakan peningkatan penggunaan mata uang non dolar AS dalam transaksi perdagangan dan investasi dengan luar negeri, termasuk melalui perluasan kerja sama LCS dengan negara-negara mitra.

Manfaatnya adalah mata uang lokal yang negaranya sudah kerja sama dengan RI seperti Ringgit dan Yen dapat digunakan untuk memfasilitasi transaksi perdagangan, investasi dan income transfer tanpa harus konversi ke dolar AS.

"Biaya konversi IDR ke dalam mata uang lokal menjadi lebih efisien karena menggunakan kuotasi harga secara langsung (direct quotation) dan ditransaksikan secara langsung antara rupiah dengan mata uang negara mitra, tanpa perlu lakukan cross rate terlebih dahulu ke dolar AS," jelasnya.

(ara/ara)