Taliban Berkuasa, Mata Uang Afghanistan Berdarah-darah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 20 Agu 2021 11:01 WIB
Afghanistan
Foto: Getty Images/KeithBinns

Pada Minggu, Ahmady mengungkapkan pimpinan Afghanistan termasuk Ghani sudah pergi meninggalkan negara tersebut. Menurut dia, seharusnya pimpinan tidak melakukan hal itu. "Saya benar-benar muak dengan perencanaan yang tidak maksimal dari pimpinan Afghanistan," tambah dia.

Ahmady menyebut uang tunai di Afghanistan sudah hampir habis. Karena kekurangan dolar AS, menurut Ahmady Taliban harus menerapkan kontrol modal. "Mata uang akan terdepresiasi, inflasi naik dan ini akan merugikan orang miskin karena harga pangan akan naik," jelas dia.

Seperti bank sentral pada umumnya, Afghanistan juga menyimpan sebagian besar cadangannya di luar negeri dalam bentuk US Treasury, emas dan sejumlah aset lainnya. Ahmady menyebut Taliban juga telah menanyakan keberadaan aset tersebut kepada staf bank sentral.

"Jika ini terjadi, mereka harus merekrut ekonom ke dalam pasukan mereka," tambahnya.

IMF sudah dijadwalkan mengirimkan bantuan sekitar US$ 450 juta ke Afghanistan pada pekan depan. Namun dana tersebut bisa dipotong karena Taliban telah menguasai negara tersebut.


(kil/ara)