Pefindo Pangkas Peringkat Utang J Resources, Ada Apa?

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 22 Sep 2021 16:36 WIB
Pekerja merapihkan uang Dollar dan Rupiah di Cash Center BRI Pusat, Jakarta, Kamis (5/6/2014). Nilai tukar rupiah hingga penutupan perdagangan sore pekan ini hampir menyentuh angka Rp 12.000 per-dollar US.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) menurunkan peringkat utang PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dan Obligasi Berkelanjutan I menjadi idBBB dengan outlook negatif. Sebelumnya emiten pertambangan ini mendapatkan peringkat idA dengan outlook positif.

Melansir penjelasan Pefindo, Rabu (22/9/2021) dikatakan penurunan peringkat itu merupakan cerminan dari peningkatan pembiayaan kembali dan risiko likuiditas terkait dengan pinjaman bank yang akan jatuh tempo.

Seperti diketahui PT J Resources Nusantara (JRN) anak usaha dari PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) dikabarkan tak mampu membayar utang kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI).

"Menyusul permintaan dari salah satu kreditur untuk melunasi seluruh pinjaman sebesar US$ 95,09 juta pada tanggal 1 September 2021," tulis Pefindo.

PSAB sendiri saat ini sedang mencari investor strategis baru. Namun mengingat terbatasnya waktu untuk mengumpulkan dana dalam jumlah besar, Pefindo memandang bahwa ada ketidakpastian yang tinggi bagi PSAB dalam membayar kewajiban keuangan.

Obligasi Berkelanjutan I Tahap Itar IV seri A senilai Rp252,2 miliar sendiri akan jatuh tempo pada 7 Desember 2021. Sebelumnya perusahaan sudah berencana akan melunasinya dari kombinasi pendanaan internal dan pendanaan eksternal.

Pefindo menyatakan obligor dengan peringkat idBBB memiliki kapasitas yang memadai untuk memenuhi komitmen keuangan jangka panjangnya dibandingkan dengan obligor Indonesia lainnya. Namun, kondisi ekonomi yang buruk atau keadaan yang berubah cenderung melemahkan kapasitasj7a untuk memenuhi kewajiban keuangannya.

Peringkat utang PSAB tersebut mencerminkan cadangan dan sumber daya pertambangan PSAB yang cukup besar, ekspektasi biaya tunai yang rendah, dan permintaan emas yang tinggi. Peringkat dibatasi oleh risiko refinancing & likuiditas yang tinggi, struktur permodalan yang agresif, eksposur terhadap fluktuasi harga emas dan cuaca yang tidak menguntungkan, dan risiko yang terkait dengan pengembangan tambang baru.

PSAB didirikan pada tahun 2002 dengan nama PT Pelita Sejahtera Abadi dan memulai operasi penambangan pada tahun 2012 setelah memperoleh aset dari Avocet Mining. Operasinya meliputi eksplorasi, penambangan, dan pengolahan emas.

Perusahaan memiliki portofolio aset yang beragam secara geografis di seluruh Indonesia dan Malaysia, khususnya di Penjom, Malaysia; Seruyung, Kalimantan Utara; dan Bakan, Lanut, Pani, Doup, Bolangitang, dan Bulagidun di Sulawesi Utara. Perseroan memiliki tiga tambang produksi, satu tambang dalam tahap konstruksi, satu tambang dalam tahap pengembangan, dan dua tambang dalam tahap eksplorasi. Per 30 Juni 2021, pemegang sahamnya terdiri dari Jimmy Budiarto (92,50%), Sanjaya J (0,02%), dan publik (7,48%).

(das/zlf)