UNVR yang Makin Disayang, Pagi Ini Melesat Nyaris 17%

Tim detikcom - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 13:17 WIB
Logo Unilever
Foto: Dok. Reuters
Jakarta -

UNVR, kode perdagangan saham milik PT Unilever Indonesia Tbk tengah jadi primadona di pasar modal. Harga saham emiten barang konsumsi ini terpantau melesat tinggi pagi tadi saat lonceng perdaganga saham dibuka.

Mengintip papan perdagangan Bursa Efek Indonesia, Kamis (7/10/2021), harga saham UNVR berada di posisi Rp 4.990/saham atau melesat 16,86%. Padahal, waktu perdagangan baru menunjukkan pukul 10.05 WIB. Kenaikan ini melengkapi tren positif selama 3 hari berturut-turut. Dengan kenaikan ini, berarti saham UNVR sudah melesat 26,33% dalam sepekan atau 21,95% selama sebulan.

Bukan hanya kenaikan harga sahamnya saja yang terpantau fantastis, nilai transaksi saham UNVR juga terbilang jumbo mencapai Rp 588,8 miliar yang menjadikannya tertinggi di bursa saham hari ini.

Adapun nilai kapitalisasi pasar UNVR mencapai Rp 190,37 triliun pagi ini.

Mengutip hasil riset CNBCIndonesia, kenaikan saham UNVR berbarengan dengan saham barang konsumer non-siklikal lainnya, seperti saham produsen rokok PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) dan PT Gudang Garam Tbk (GGRM) yang masing-masing naik 7,91% dan 7,19%.

Duo saham Indofood, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan anak usahanya PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) juga naik masing-masing 1,89% dan 1,41%. Saham PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga terkerek 4,72%.

Berkat lonjakan saham-saham tersebut, indeks saham sektor barang konsumer non-siklikal melonjak 4,35%, memimpin di antara indeks sektoral lainnya di tengah IHSG menguat 0,61% ke 6456,69.

Mengenai kinerja keuangan, laba bersih UNVR per Juni tercatat sebesar Rp 3,05 triliun, turun 15,75% dari periode yang sama tahun lalu Rp 3,62 triliun.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat ini (23/7), penurunan laba bersih seiring dengan koreksi pendapatan di periode 6 bulan ini. Pendapatan UNVR tercatat Rp 20,18 triliun, turun 7,30% dari Juni 2020 sebesar Rp 21,77 triliun.

Penjualan dalam negeri mencapai Rp 19,29 triliun, turun dari Rp 20,77 triliun, sementara ekspor juga turun menjadi Rp 888,11 miliar dari Rp 1 triliun

Penjualan kepada pihak terafiliasi terbesar yakni ke Unilever Asia Private Limited, Unilever (Malaysia) Holdings Sdn Bhd, Unilever Philippines, Inc., Unilever EAC Myanmar Company Limited, Unilever Australia Ltd, dan Unilever Thai Trading Limited.

Perseroan mencatatkan laba bruto Rp 10,25 triliun, juga turun dari sebelumnya Rp 11,18 triliun, sementara harga pokok penjualan turun menjadi Rp 9,93 triliun dari Rp 10,59 triliun.

Adapun beban pemasaran dan penjualan berhasil diturunkan menjadi Rp 4,22 triliun dari sebelumnya Rp 4,29 triliun.

Per Juni, jumlah aset tercatat Rp 20,27 triliun, dari Desember 2020 Rp 20,53 triliun di mana kas dan setara kas berkurang drastis menjadi Rp 526,36 miliar dari Desember 2020 sebesar Rp 844,08 miliar.

Total kewajiban mencapai Rp 16,26 triliun dari Desember 2020 Rp 15,59 triliun, dengan ekuitas Rp 4,01 triliun dari Desember 2020 Rp 4,94 triliun.

Ira Noviarti, Presiden Direktur Unilever Indonesia, menyampaikan bahwa pertumbuhan pasar FMCG (Fast Moving Consumer Goods) belum sepenuhnya pulih karena pandemi Covid-19. Ini yang menyebabkan konsumen masih berhati-hati dalam memilih pola konsumsi di beberapa kategori basic.

"Berbagai tantangan tersebut tentunya mempengaruhi tingkat pertumbuhan dari perseroan. Kondisi ini juga ditambah dengan kenaikan harga komoditas yang mulai mempengaruhi biaya produk," kata Ira, dalam keterangan resmi, dikutip Jumat ini (23/7).



Simak Video "Kuliner Kekinian Profit Pesat Buntung Cepat"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)