Nyelekit... Kaesang Sindir Gen Z yang Suka Ikut-ikutan Beli Saham

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 07 Okt 2021 14:24 WIB
Karyawan mengamati layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (29/09/2014). IHSG berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan. Indeks itu ditutup pada level 5.142,01 atau rebound 0,18%,Sektor keuangan menjadi pendorong indeks dengan kenaikan 0,77%.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Di media sosial, Kaesang Pangarep sering menjadi panutan bagi investor ritel dalam berinvestasi saham di pasar modal. Namun kini Kaesang menyindir perilaku generasi Z yang suka ikut-ikutan dalam memilih saham.

Awalnya Kaesang membandingkan investor ritel pemula saat ini dengan beberapa tahun sebelumnya. Menurutnya investor saat ini tidak lagi menggunakan fundamental analisis dan teknikal analisis dalam memilih saham.

"Sekarang kan zaman di mana di 2021 ini ritel itu banyak banget. Kalau dulu, musim banget zamannya kita selalu pakai fundamental analisis, sama teknikal analsisi, FA sama TA. Tapi FA sama TA ini ada hal beda lagi, itu feeling analisis sama teman analisis, ini yang biasanya orang-orang pakai sekarang," tuturnya sambil berkelakar dalam acara SimInvestLab, Kamis (7/10/2021).

Kaesang yang mengaku baru terjun di dunia pasar modal sejak 2017 itu mengatakan, investor generasi Z saat ini kebanyakan lebih memilih mengikuti influencer dalam memilih saham.

"Itu memang terjadi di dunia saham sekarang, apalagi ritel-ritel, gen Z ini sukanya ngikut. Orang ngomong apa dia ngikut. Padahal tadi Mba ellen bilang sebelum ada orang ngomong saham A, kita nggak semata-mata kita ikut-ikutan," ucapnya.

Menurut Kaesang seharusnya jika ada pihak yang memberikan rekomendasi saham jangan ditelan mentah-mentah. Pelajari terlebih dahulu kondisi saham tersebut.

Namun menurutnya para generasi Z cenderung memiliki sifat Fear of Missing Out (FOMO). Sebuah kata yang lagi populer untuk menunjukkan seseorang yang takut ketinggalan atas suatu hal. Dalam hal investasi takut ketinggal trend kenaikan.

Menurut Kaesang, sifat FOMO para investor generasi Z itu justru bisa dimanfaatkan oleh sebagian orang. Misalnya menggerakkan para investor ritel untuk membeli saham tertentu, padahal orang yang menggerakkan itu sudah memiliki saham tersebut dan hendak keluar.

"Namanya gen Z itu adalah orang yang FOMO, nggak mau ketinggalan. Itu kenapa bahayanya juga itu dimanfaatkan oleh sebagian orang untuk memberikan informasi saham ternyata dipakai orang tersebut untuk exit. Jadi mau bagaimana pun kita tetap harus pelajari dulu saham-saham tersebut. Secara teknikal, secara fundamental, supaya tidak nyangkut," tegasnya.

Kaesang juga menyindir generasi Z yang sering panic selling. Menurutnya mereka sangat takut ketika saham yang dimilikinya mulai mengalami penurunan. Padahal menurut Kaesang dalam penurunan saham bisa saja terselip kesempatan untuk melakukan average down.

"Kalau kita menggunakan fundamental analisis itu kaya harga turun pun kita nggak pernah takut untuk average down. Kalau sekarang gen Z itu ayo-ayo cut loss, panic selling. Padahal kita tahu secara fundamentalnya sendiri perusahaan itu bagus," tutupnya.

(das/dna)