Omicron Telah Bunuh 'Banteng' di Pasar Saham AS

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 01 Des 2021 22:15 WIB
New York City, USA - The streets around the Charging Bull statue on Wall Street in Lower Manhattan busy with tourists.
Foto: Getty Images
Jakarta -

Varian baru COVID-19, Omicron telah membunuh para 'banteng' di pasar modal dunia. Pernyataan dari Federal Reserve juga turut memperparah kondisi pasar modal yang sebelumnya mengalami reli penguatan.

Melansir CNN, Rabu (1/12/2021), kekhawatiran virus corona terbaru ini membuat para pelaku pasar bertanya-tanya apakah ini akhir dari tren bullish yang sudah berjalan lama. Pernyataan dari Ketua Federal Reserve Jerome Powell tentang inflasi juga ternyata tidak membantu. Indeks Dow Jones turun lebih dari 600 poin.

"Varian terbaru dari COVID-19 adalah penyebab utama terjadinya aksi jual daripada pernyataan Powell. Mengingat ada kekhawatiran bahwa Omicron dapat mengganggu musim liburan dan itu membuat investor khawatir," kata James Ragan, direktur penelitian manajemen kekayaan di D.A. Davidson.

Namun perlu diingat, meski dalam tren penurunan, Wall Street tetap mengalami tahun yang luar biasa. S&P 500 naik hampir 25%. Nasdaq juga telah naik lebih dari 20%. Investor juga banyak mengalami cuan dari saham-saham teknologi seperti Apple (AAPL), Microsoft (MSFT) dan Google Alphabet (GOOGL).

Memang di AS, Desember biasa menjadi bulan yang paling banyak memberikan keuntungan dibanding bulan-bulan lainnya. Tingkat konsumsi masyarakat AS meningkat drastis selama musim liburan akhir tahun.

Kondisi itu tentu seharusnya menjadi sentimen positif bagi pasar modal. Sebab akan banyak perusahaan yang mendulang keuntungan besar di kuartal keempat ini.

Tapi sepertinya Desember tahun ini akan berbeda dengan hadirnya varian Omicron. Masalahnya para ahli masih belum yakin seberapa bahayanya kondisi saat ini.

(das/dna)