Beli 70% Saham, Presdir Jadi Pengendali Perusahaannya Sendiri

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 05 Des 2021 21:33 WIB
Pengunjung berada di sekitar layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (13/2). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini pukul 12.00 menurun-0,67% ke posisi 5,873,30. Pergerakan IHSG ini masih dipengaruhi oleh sentimen atas ketakutan pasar akan penyebaran wabah virus corona.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

PT Protech Mitra Perkasa Tbk (OASA) berganti nakhoda. Bobby Gafur Sulistyo Umar kini telah resmi menjadi pengendali baru kepemilikan perusahaan yang bergerak di bidang jasa konstruksi, telekomunikasi dan energi tersebut. Bobby saat ini juga menjabat sebagai Presiden Direktur Perseroan.

"Merujuk pada Peraturan OJK, saya telah menyelesaikan pembelian atas 179.300.000 saham yang mewakili 50% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam PT Protech Mitra Perkasa Tbk," ucapnya, Minggu (5/12/2021).

Sebelumnya dirinya telah tercatat sebagai pemegang 25% saham OASA. Dengan selesainya akuisisi tersebut, Bobby yang kini memiliki 268.950.000 saham mewakili 75% dari seluruh saham yang ditempatkan dan disetor penuh dalam OASA, sekaligus telah menjadi pengendali baru OASA dan akan melaksanakan penawaran tender wajib sesuai dengan ketentuan POJK No. 9/2018.

Dijelaskan oleh Bobby, OASA yang sejak tahun 2013 telah memperluas cakupan bisnis nya ke sektor telekomunikasi dan beberapa tahun setelah itu juga merambah bisnis energi, termasuk kelistrikan dan energi terbarukan, sebenarnya adalah perusahaan yang berbasis pada manajemen proyek dan konstruksi yang terintegrasi.

"Ke depan, kami sudah menetapkan rencana dan akan segera menyusun cetak-biru bisnis kami, dengan tetap mempertahankan dan terus mengembangkan kegiatan usaha di bidang-bidang konstruksi barang elektrikal, telekomunikasi dan juga tetap menjadi pemasok utama di sektor energi migas," kata Bobby menjelaskan.

Pandemi COVID-19 pada kenyataannya telah memorakporandakan bisnis dan industri jasa konstruksi. "Kita juga terkena dampaknya karena terjadi penurunan pasokan produk ke proyek konstruksi bangunan serta infrastruktur," ujarnya.

Namun, lanjutnya, bisnis yang digelutinya ini telah mulai menggeliat kembali. Dia mengakui outlook ke depan memang masih sangat tidak pasti. Prospeknya masih sangat tergantung pada durasi krisis kesehatan dan efektivitas kebijakan pemerintah untuk meredam dampak ekonomi dari pandemi ini.

"Tetapi kami para pengusaha jasa konstruksi juga harus optimis bahwa sektor yang kami geluti ini mampu berkontribusi besar dalam proses pemulihan ekonomi," katanya.

Konstruksi barang elektrikal, telekomunikasi dan juga energi migas, akan menjadi sektor-sektor bisnis yang akan digarap serius oleh Perseroan.

"Terutama di sektor energi terbarukan atau EBT. Kami menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 20 miliar hingga Rp 30 miliar, seluruhnya dari internal," kata Bobby.

Lihat juga video 'Ini Loh! Ciri-Ciri Robot Trading Abal-Abal':

[Gambas:Video 20detik]



(hal/dna)