Penguatan Rupiah Mencemaskan
Jumat, 28 Apr 2006 15:21 WIB
Jakarta - Penguatan rupiah yang sangat drastis akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan. Hal itu dikarenakan penguatan rupiah hingga mencapai level 8.700-an per dolar AS tidak diikuti oleh perbaikan indikator perekonomian lainnya.Hal itu disampaikan Pengamat ekonomi Hendri Saparini usai diskusi dengan Forkem di Gedung depkeu, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (28/4/2006)."Investasi bahkan tahun ini lebih rendah dari tahun lalu kemudian juga ekspor, peningkatannya bukan pada volume tapi ke value karena naiknya harga internasional, ini tidak memberi harapan bahwa daya saing Indonesia meningkat, bukan di situ, ini mengkhawatirkan," ujarnya.Hendri menyarankan ada langkah-langkah dari pemerintah untuk mendorong penciptaan dan peningkatan domestic demand, sehingga investor akan tertarik untuk menanamkan modalnya di Indonesia."Bagaimana upaya pemerintah untuk menggerakkan sektor riil dengan menciptakan demand itu peran pemerintah. Kalau demand tercipta, kemudian sektor riil bergerak mau tidak mau yang tadinya investasi di portfolio jangka pendek akan bergerak ke sektor rill," ujarnya.Namun Hendri menilai selama ini tidak diciptakan demand di dalam negeri, sehingga tidak akan mungkin ada pergeseran dari dana jangka pendek ke investasi langsung atau riil.Pelemahan dolar AS, lanjut dia, terjadi karena kondisi perekonomian di AS sendiri yang sedang mengalami pelemahan.
(qom/)











































