ADVERTISEMENT

Perjalanan Saham Bakrie & Brothers yang Utangnya Kini Rp 10,7 T

Trio Hamdani - detikFinance
Jumat, 10 Des 2021 19:00 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 5% ke level 4.891. Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham siang ini.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) sedang berusaha bangkit dari keterpurukan. Anak usaha Bakrie Group itu memiliki utang Rp 10,7 triliun yang tercatat hingga kuartal III-2021. Pihaknya tengah berupa melakukan restrukturisasi yang prosesnya diharapkan rampung tahun depan.

"Total utang kita pada 9 bulan tahun 2021 itu ada Rp 10,73 triliun ya terdiri dari sebagian besar utang jangka pendek. Ada sedikit peningkatan dari tahun 2020," kata Direktur dan Chief Financial & Investment Officer Bakrie & Brothers Roy Hendrajanto M. Sakti dalam paparan publik virtual, Jumat (10/12/2021).

Tak hanya itu, hingga 9 bulan pertama di 2021, BNBR masih mencatatkan kerugian Rp 45 miliar. Kondisi tersebut diakui akibat pandemi virus Corona (COVID-19) yang melanda Indonesia. Kerugian tersebut setidaknya berhasil ditekan dibandingkan periode yang sama 2020, yang mana Bakrie & Brothers membukukan kerugian Rp 240 miliar.

Sejalan dengan kondisi keuangan perusahaan yang masih babak belur, kinerja saham BNBR juga tak bergairah.

Perusahaan sudah cukup lama nangkring di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) pada tahun 1989. Kala itu, harga saham IPO BNBR senilai Rp 7.975 per lembar.

Mengutip grafik perdagangan, Jumat (10/12/2021), pergerakan saham BNBR yang dapat dilihat detikcom dimulai pada Juni 2005. Saat ini harga sahamnya masih di Rp 2.400.

Sempat berfluktuasi, saham BNBR konsisten mengalami kenaikan. Puncaknya terjadi pada Februari 2008, dengan kenaikan menyentuh Rp 6.900 hingga kemudian jeblok ke Rp 500 pada Desember 2008.

Pada awal 2009 hingga pertengahan tahun, saham BNBR sempat mengalami pergerakan ke atas, puncaknya Rp 1.320 di Agustus 2009. Setelahnya saham perusahaan terus mengalami penurunan hingga tak bergeming di Rp 500 mulai awal 2012 hingga pertengahan 2018.

Sejak saat itu saham BNBR terjebak di harga Rp 50 per lembar hingga hari ini. Perlu diketahui Rp 50 adalah batas paling bawah harga saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

(toy/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT