Tutup Perdagangan Bursa, Airlangga Ungkap Tantangan Ekonomi Global 2022

ADVERTISEMENT

Tutup Perdagangan Bursa, Airlangga Ungkap Tantangan Ekonomi Global 2022

- detikFinance
Kamis, 30 Des 2021 17:57 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno memberikan penghargaan desa wisata favorit kepada Desa Wisata Cikolelet saat Malam Anugerah Desa Wisata 2021 di Jakarta, Selasa (7/12/2021).
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkap berbagai tantangan ekonomi global di 2022. Hal ini disampaikan dalam penutupan perdagangan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tahun 2021.

Ia menyebut, ekonomi global memiliki berbagai tantangan mulai dari krisis energi, disrupsi supply chain atau perubahan rantai pasokan, hingga efek dari krisis properti China. Semua tantangan itu diprediksi akan lebih terasa pada 2022.

"Krisis properti di China evergrande yang (utangnya) US$ 300 billion dan ini efeknya akan terasa di 2022. Kemudian, kita ketahui bahwa tingkat suku bunga di Amerika itu lebih rendah dari inflasi, kita juga melihat ada potensi tapering of dari The Fed," kata Airlangga dalam seremoni penutupan perdagangan BEI, Kamis (30/12/2021).

Meski demikian, menurutnya Indonesia akan lebih kuat karena telah banyak melewati tantangan yang luar biasa selama 2 tahun pandemi ini.

"Tentu kita melihat bahwa telah terjadi optimisme dengan penanganan COVID-19 yang di bulan Juli sudah mencapai 56.000 Namun kita sudah melihat dalamnya penurunannya sudah lebih dari 90%, bahkan secara rata-rata jika sudah konsisten sekitar lebih dari 4 bulan kasusnya dibawah 300," ujarnya.

Selain tantangan ekonomi global, Airlangga juga mengungkap berbagai kinerja positif Bursa Efek Indonesia (BEI). Salah satunya adalah kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang dinilai menjadi rekor.

"Tadi sudah banyak tepuk tangan, ini bursa mencapai rekor 6.723. Tepuk tangan berikutnya, return BEI secara year-to-date 10%," ujar Airlangga.

Kemudian, dia juga mengatakan adanya peningkatan jumlah investor ritel menjadi 7,38 juta. Menurutnya, saat ini pasar modal Indonesia sudah dikuasai oleh investor dalam negeri.

Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan mengingat pemerintah telah menetapkan pajak penghasilan (PPh) Badan 22% dan PPh bagi perusahaan terbuka adalah 19%. Menurutnya itu seharusnya bisa menarik minat banyak perusahaan untuk melantai di bursa.

"Jadi bahasanya, kalau jumlah yang IPO kurang banyak, berarti yang kebangetan Dirut bursanya," imbuh Airlangga.

(Aulia Damayanti/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT