Wall Street Melorot, Gara-gara Bunga Surat Utang AS Naik

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 19 Jan 2022 08:36 WIB
FILE - A Wall Street sign is seen next to surveillance equipment outside the New York Stock Exchange, Tuesday, Oct. 5, 2021, in New York.  Stocks are edging higher in early trading on Wall Street Tuesday, Oct. 12,  as traders wait for more data on inflation and corporate earnings this week.    (AP Photo/Mary Altaffer)
Foto: AP/Mary Altaffer
Jakarta -

Indeks harga saham utama di Wall Street melorot karena imbal hasil surat utang pemerintah melejit ke level tertinggi.

Memang imbal hasil atau yield treasury ini naik di atas 1% untuk pertama kalinya sejak Februari 2020.

Dikutip dari CNBC disebutkan Dow Jones Industrial Average tercatat turun 543,34 poin atau 1,5% menjadi 35.368,47. Kemudian S&P 500 turun 1,8% menjadi 4.577,11 dan Nasdaq Composite turun 2,6% menjadi 14.506,9. Ini merupakan level terendah dalam jangka waktu tiga bulan.

Kemudian saham Goldman Sachs juga turun hampir 7% pada Selasa setelah mengumumkan kinerja kuartal IV tahun lalu yang tidak sesuai dengan ekspektasi para analis. Selain itu, Goldman juga dibebankan oleh kenaikan gaji karyawan sebesar 23%.

Saham Microsoft juga merosot 2,4% setelah perusahaan mengumumkan akan mencaplok perusahaan video game Activision Blizzard seharga US$ 68,7 miliar. Namun saham Activision Blizzard justru melonjak 25,9%.

Saham Tesla turun 1,8%, Meta Platforms turun 4,1% dan Amazon turun 2%. Memang, saham teknologi pada Selasa terus melanjutkan tren penurunan karena adanya ekspektasi kenaikan suku bungan.

Pasalnya, suku bunga yang lebih tinggi disebut bisa membuat pertumbuhan pasar terganggu.

Kepala ekonom pasar keuangan Oxford Economics Kathy Bostjancic mengungkapkan saat ini memang pasar obligasi terus memantau pengetatan kebijakan oleh bank sentral AS.

"Dengan kebijakan Fed, pertumbuhan ekonomi diproyeksi akan melambat, karena ada upaya untuk menekan permintaan," kata dia dikutip dari CNBC, Rabu (19/1/2022).

Analis dari LPL Ryan Detrick mengungkapkan jika data ekonomi yang keluar baru-baru ini tertekan gara-gara Omicron. Seperti penjualan ritel, kepercayaan konsumen, produksi industri dan manufaktur Empire State juga terpengaruh Omicron.

"Tapi ini bukan akhir dari segalanya, kami prediksi akan terjadi peningkatan lagi setelah Omicron mereda," jelasnya.

Menurut dia, Omicron ini memang dikhawatirkan bisa mengganggu pemulihan ekonomi global. Bahkan beberapa negara sudah memberlakukan lockdown dan menerapkan social distancing untuk menekan penyebaran penyakit.



Simak Video "Wall Street Ikut 'Terinfeksi' Virus Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)