Bertambah Lagi Perusahaan Sawit Mau IPO, Target Kantongi Rp 2 T

Iffa Naila Safira Widyawati - detikFinance
Jumat, 18 Feb 2022 07:25 WIB
Pekerja membongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di Mamuju Tengah , Sulawesi Barat, Rabu (11/08/2021). Harga TBS kelapa sawit tingkat petani sejak sebulan terakhir mengalami kenaikan harga dari Rp1.970 per kilogram naik menjadi Rp2.180  per kilogram disebabkan meningkatnya permintaan pasar sementara ketersediaan TBS kelapa sawit berkurang. ANTARA FOTO/ Akbar Tado/wsj.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/AKBAR TADO
Jakarta -

Perusahaan sawit yang bakal melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) akan bertambah. Giliran PT Nusantara Sawit Sejahtera (NSS) berencana menjadi perusahaan terbuka dengan melepas sebanyak-banyaknya 40% saham.

Perusahaan membidik dana sebanyak-banyaknya Rp 2 triliun dari penjualan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun ini.

NSS merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit yang memiliki lima area perkebunan di Kalimantan Tengah. NSS berdiri sejak 2008, perusahaan memproduksi tandan buah segar (TBS), minyak sawit mentah (CPO), dan biji sawit (PK).

Sosok Direktur Utama NSS, Teguh Patriawan menjadi sorotan. Dia telah berpengalaman selama 40 tahun di industri kelapa sawit termasuk bekerja di Sinarmas Group selama 15 tahun dan sebelumnya bekerja di sektor kehutanan setelah lulus dari Fakultas Kehutanan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Ahli hukum kasus sawit dan perhutanan, Sadino mengatakan, dirinya mengenal Teguh sejak 2009. Dari sisi tata kelola perusahaan perkebunan, Teguh berupaya memenuhi prosedur dan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan teliti.

"Secara pribadi saya menilai beliau mempunyai pendirian yang teguh sesuai namanya Teguh Patriawan. Dari sisi regulasi, saya melihat beliau selalu berusaha memenuhi prosedur peraturan dengan teliti," jelas Sadino, Jumat (18/2/2022).

Dari sisi kemampuan bisnis, dia menilai sangat cermat melihat peluang usaha. Terlihat dari langkahnya memasuki industri sawit 30 tahun lalu dan hingga saat ini permintaan terhadap CPO tetap tinggi dan diprediksi terus meningkat di masa mendatang.

"Menurut saya, Pak Teguh sebagai praktisi kehutanan yang lahir dari era kejayaan kayu. Ternyata beliau mempunyai pandangan yang cermat bahwa kayu akan sunset, sehingga bisa melihat lebih jauh untuk prospek sawit," ujar Sadino.

(ara/ara)