Hot Money Jadi Cold? Itu Mimpi!
Selasa, 16 Mei 2006 10:47 WIB
Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah berniat mengubah uang panas alias hot money menjadi warm atau bahkan cold money. Artinya, dana-dana jangka pendek akan diupayakan menjadi dana-dana jangka panjang yang akan masuk ke sektor riil. "Itu mimpi. Itu logikanya nggak jalan," cetus Direktur Currency Management Group (CMG) Farial Anwar dalam perbincangannya dengan detikcom, Senin (15/5/2006).Farial menjelaskan, hot money selama ini dikelola oleh fund manager untuk selanjutnya ditempatkan ke sejumlah investasi yang dianggap paling menguntungkan. Beberapa tempat investasi yang biasanya diincar adalah pasar modal atau pun obligasi. "Dan mereka itu tidak ada spesialisasi untuk berinvestasi di sektor riil," tegasnya.Sementara karakter investor di sektor riil dan fund manager pun sangat berbeda. Untuk investor di sektor riil, mereka umumnya harus membuat perencanaan yang sangat matang dalam membuat sebuah proyek. "Jadi memang tipikal pemiliknya saja sudah berbeda. Makanya saya bilang, itu logikanya nggak jalan," tambahnya.Terkait maraknya hot money yang deras mengalir ke Indonesia, Farial melihat bahwa Indonesia saat ini memang menjadi tempat yang menggiurkan untuk mencari profit. "Suku bunga kita itu tertinggi dibandingkan seluruh negara normal di dunia. Dan para investor itu kan berburu spread," jelasnya.Farial yakin, jika BI rate yang saat ini 12,5 persen diturunkan menjadi 11-12 persen, dana-dana asing masih tetap akan mengalir ke Indonesia. "Karena mereka susah untuk mencari suku bunga yang tinggi seperti di Indonesia," ujarnya.Aliran modal yang sangat cepat itulah yang memicu kondisi pasar saham yang tidak sehat. "Kemarin IHSG dan rupiah terus menguat. Padahal tidak ada sentimen positif yang mendukung. Hal itu menyebabkan ketidakseimbangan. Pasar saham dan uang maju, tapi sektor riil jalan ditempat, bahkan mundur," urainya.
(qom/)











































