Sulit Menguat Lagi
Rupiah Masuki Musim Gugur
Selasa, 16 Mei 2006 15:27 WIB
Jakarta - Masa kejayaan rupiah yang sempat menguat 8.700 per dolar AS pada tahun ini telah berakhir. Rupiah kini memasuki musim gugur karena dana panas (hot money) kembali ke pangkuan Euro dan Yen.Pengelola dana (hedge fund) yang masuk ke pasar berkembang (emerging market) seperti Indonesia, Thailand dan Filipina, kini memilih kembali ke hard currency memegang euro dan yen.Hal ini dilakukan karena makin tingginya defisit perdagangan AS, yang menyebabkan hedge fund harus menjaga posisi euro dan yen."Waktu mereka masuk ke sini, euro dan yen sedang lemah, sehingga mereka memilih soft currency seperti rupiah, peso dan bath. Tapi sekarang euro dan yen menguat lagi sehingga mereka harus menutup posisi jual waktu itu," kata Chief Economist PT Bank Internasional Indonesia (BII), Ferry Latuhihin kepada detikcom, Selasa (16/5/2006).Ferry menjelaskan, mata uang rupiah, paling banyak penurunannya dibanding peso dan bath, karena hot money yang masuk ke Indonesia paling tinggi dibanding dua negara itu.Jumlah hot money yang masuk sejak awal tahun ini, menurut Ferry, sekitar US$ 11 miliar yang membuat cadangan devisa Indonesia juga melonjak hingga US$ 42 miliar.Akibatnya, nilai tukar rupiah sejak awal tahun terus menguat dalam jangka waktu terlalu cepat karena sebenarnya kondisi fundamental tidak mendukung."Kita tidak bisa menahan hedge fund untuk bertahan, karena dana yang masuk memang carry trade," ujar Ferry.Munculnya ide percepatan pembayaran utang ke IMF, juga menjadi pemicu investor menukarkan rupiahnya. "Mereka bilang itu kan cadangan devisa naik karena hot money, kok dana kita untuk bayar utang," tukasnya.Ferry menilai, posisi ideal mata uang rupiah tahun ini tetap di kisaran 9.800 per dolar AS sampai akhir tahun.Menurutnya, pembalikan rupiah yang terus melemah ini tidak bisa diatasi oleh Bank Indonesia (BI) karena ini murni transaksi pasar."Kalau BI melakukan intervensi justru itu yang disukai spekulan, yang terjadi malah dana BI habis rupiah tetap melemah," katanya.Ferry menegaskan, penurunan rupiah saat ini harus disikapi secara wajar karena penguatannya selama ini tidak didukung oleh fundamental yang baik.Dia juga membantah sejumlah pendapat yang mengatakan pelemahan rupiah karena turunnya suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). "BI mau turunkan 50 basis poin pun tidak ada pengaruhnya untuk investor asing," tukasnya.
(ir/)











































