Restrukturisasi Utang, Suba Andalkan 2 Investor strategis

Restrukturisasi Utang, Suba Andalkan 2 Investor strategis

- detikFinance
Senin, 29 Mei 2006 17:03 WIB
Jakarta - Perusahaan pengolah jagung, PT Suba Indah Tbk (SUBA) akan mengandalkan dua calon investor strategisnya, yang diharapkan bisa menyuntik modal Rp 500 miliar untuk restrukturisasi utangnya.Perseroan mengaku sedang melakukan negosiasi restrukturisasi utang ini dengan dua calon investor strategisnya. Nantinya, investor strategis ini akan menjadi pemegang saham mayoritas sekitar 50 persen saham di Suba.Dua calon investor strategis tersebut merupakan investor lokal yang bergerak di bidang pertanian, dan investor asal Singapura yang bergerak di bidang investasi."Mereka tengah melakukan due diligence dan mudah-mudahan pada semester kedua ini sudah bisa direalisasikan," kata Direktur Suba Indah, Ibnu Sutowo dalam paparan publik di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Senin (29/5/2006).Ia menambahkan, pemegang saham Suba adalah 30 persen publik dan 70 persen sisanya dimiliki oleh pemegang saham utama, yang terdiri dari PT Krida Jaya Perdana dan PT Surya Inti Kharisma.Namun, berdasarkan data laporan keuangan Suba Indah per Maret 2006, komposisi kepemilikan saham di Suba Indah terdiri dari saham seri A yang dimiliki oleh PT Kridajaya Upaya Perdana 14,79 persen, PT Treasure Fund Indonesia 11,15 persen, PT Surya Inti Kharisma 6,71 persen dan publik sebesar 56,27 persen. Sedangkan, saham seri B dimiliki publik sebesar 11,08 persen.Ibnu menambahkan, perseroan mengundang investor strategis ini sebagai bagian dari skema restrukturisasi utang dengan Bank Mandiri. Rencananya dana dari investor strategis ini akan digunakan untuk ekspansi usaha dan menutup utang perseroan kepada Bank Mandiri. Bank Mandiri juga diakui telah menyetujui usulan perseroan tersebut dengan syarat harus ada penurunan exposure yang dibayarkan kepada Bank Mandiri."Besaran exposure yang akan diturunkan masih dalam proses negosiasi. Namun, diharapkan penurunan itu hingga Rp 300 miliar," ujarnya.Hingga saat ini, jumlah utang perseroan ke Bank Mandiri Rp 368,836 miliar dan US$ 31,999 juta. Dari total utang ini, sebagian besar utang telah jatuh tempo dan sisanya sebesar Rp 230,65 miliar akan jatuh tempo pada akhir Desember 2006.Ibnu menjelaskan, keterlambatan penyampaian keterbukaan informasi mengenai gagal bayar (default) utang ke Bank Mandiri karena perseroan sedang melakukan pembicaraan dengan calon investor.Perseroan sendiri menjanjikan akan segera melunasi kewajiban tersebut bila negosiasi dengan calon investor berhasil. Selain itu, perseroan juga tidak membukukan bunga dan denda default dengan pertimbangan perseroan sedang mengajukan usulan untuk restrukturisasi utang."Bila usulan tersebut disetujui maka perseroan berharap bunga dan denda tersebut dapat dihapuskan. Sehingga dalam laporan keuangan interim per Juni dan September 2005 bunga dan denda tersebut tidak dibukukan," jelasnya. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads