ADVERTISEMENT

Harga Timah Melesat, BUMN Ini Kantongi Pendapatan Rp 4 T dalam 3 Bulan

- detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 06:00 WIB
Penghasil Timah
Foto: Tambang Timah (Denny Pratama/detikcom)
Jakarta -

Perusahaan tambang pelat merah PT TIMAH Tbk (TINS) mengumumkan Laporan Keuangan yang berakhir pada 31 Maret 2022. Pada periode Q1-2022 TINS berhasil membukukan laba sebesar Rp 601 miliar atau naik 5713% dibandingkan Q1-2021.

Selain disebabkan oleh naiknya harga logam Timah, hal ini juga dikarenakan efektifitas Perseroan dalam menekan biaya operasional.

Pada Q1-2022 Perseroan berhasil membukukan pendapatan sebesar Rp 4,4 triliun atau naik 80% dibandingkan Q1-2021, dengan peningkatan kinerja laba operasi sebesar 575% menjadi Rp 885 miliar dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 131 miliar.

Laba bersih Perseroan naik 5,713% menjadi Rp 601 miliar dibandingkan periode Q1-2021 sebesar Rp 10 miliar.

Naiknya profitabilitas Perseroan terlihat pula dari naiknya EBITDA sebesar 213% menjadi Rp 1,1 triliun dari sebelumnya Rp 347 miliar Posisi nilai aset Perseroan pada Q1-2022 sebesar Rp 14.4 triliun atau turun 2% dibandingkan akhir tahun 2021 sebesar Rp 14,7 triliun.

Posisi liabilitas sebesar Rp 7.4 triliun atau turun 12% dibandingkan posisi akhir tahun sebesar Rp 8,4 triliun, sedangkan posisi ekuitas naik 11% menjadi Rp 7.0 triliun dibandingkan posisi akhir tahun sebesar Rp 6.3 triliun.

Posisi cash flow operasi Perseroan naik 111% menjadi Rp 2.1 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp 0.9 triliun. Pinjaman bank dan utang obligasi pada Q1-2022 turun signifikan menjadi Rp 3,7 triliun dari sebelumnya Rp 5,1 triliun.

Indikasi baiknya performa finansial Perseroan terlihat dari beberapa rasio seperti Quick Ratio sebesar 44%, Current Ratio sebesar 153%, Gross Profit Margin sebesar 25%, Net Profit Margin sebesar 14%, Debt to Asset Ratio sebesar 26%, dan Debt to Equity Ratio sebesar 53%.

Sementara itu kinerja Operasi, Produksi bijih timah pada Q1-2022 tercatat sebesar 4.508 ton atau turun 11% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 5.037 ton.

Dari jumlah tersebut 35% atau 1.583 ton berasal dari penambangan darat, sedangkan sisanya 65% atau 2.925 ton berasal dari penambangan laut. Produksi logam timah Q1-2022 turun sebesar 8% menjadi 4.820 Mton dari periode Q1-2021 sebesar 5.220 Mton.

Adapun penjualan logam timah tercatat sebesar 5.703 Mton atau turun sebesar 4% dibandingkan periode yang sama tahun 2021 sebesar 5.912 Mton. Harga jual rerata logam timah pada Q1-2022 sebesar US$ 43.946 per Mton atau naik signifikan 76% dibandingkan Q1-2021 sebesar US$ 24.992 per Mton.

"Ke depan, Perseroan terus berupaya untuk meningkatkan volume produksi, sehingga target produksi dapat tercapai sesuai RKAP. Produksi bijih timah berbiaya rendah dari penambangan offshore akan terus ditingkatkan agar profit margin yang optimal tetap dapat dipertahankan," demikian disampaikan Direktur Keuangan PT Timah tbk, Krisna Sjarif.

Lihat juga Video: Haris Azhar Serahkan Bukti soal Bisnis Tambang Luhut di Papua ke Penyidik

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT