Memahami Pergerakan Saham GoTo dari Loyonya Saham Emiten Digital Dunia

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 14:29 WIB
Podcast: Menakar Cuan Saham GoTo
Ilustrasi Harga Saham GoTo Foto: Tim Infografis/Fauzan Kamil
Jakarta -

Investasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui Telkomsel pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) tengah menjadi sorotan publik. Hal ini terjadi karena investasi tersebut tercatat sebagai kerugian yang belum terealisasikan (unrealized loss) sebesar Rp 881 miliar.

Eko B Supriyanto, pemerhati industri bank dan investasi menjelaskan, industri digital di dunia saat ini memang tengah mengalami koreksi. Dia menyebut, saham-saham Nasdaq seperti Grab Holding, Uber, Amazon, Tesla, Apple, dan Microsoft, mengalami penurunan.

Begitu juga dengan saham Alibaba, Sea Limited, termasuk Twiter di pasar saham New York Stock Exchange (NYSE). Serta, Kakao Bank di Korea Exchange (KRX) yang sahamnya juga turun.

Menurutnya, penurunan saham digital menjadi fenomona global dan akan berdampak langsung ke perusahaan digital Indonesia.

"Jadi, penurunan saham digital tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di global. Semua ini tak lain karena dunia dilanda inflasi tinggi, yang membuat suku bunga naik. Saham perusahaan yang mengalami koreksi di bursa Indonesia tidak hanya GoTo. Beberapa saham perusahaan e-commerce dan bank digital mengalami koreksi. Naik turunnya saham merupakan hal yang lazim di pasar saham. Bahkan, pengalaman Amazon baru membukukan laba setelah enam tahun dan menjadi listed company," terang Eko dalam ketarangannya, Kamis (19/5/2022).

Menjadi salah satu perusahaan yang terkena dampak dari tingginya inflasi di Amerika, saham GoTo mengalami koreksi sehingga Telkomsel sebagai salah satu perusahaan pemegang saham GoTo terkena dampaknya. Berdasarkan PSAK 71, investasi yang dilakukan Telkomsel di GoTo akan dicatatkan sebagai unrealized loss (kerugian yang belum direalisasikan). Nilai unrealized loss, seperti dicatat dalam laporan keuangan Maret 2022 lalu, nilainya sebesar Rp 881 miliar.

"Masih banyak masyarakat belum memahami catatan unrealized loss di laporan keuangan. Dan ini yang saat ini banyak diributkan. Bahkan banyak pihak yang mengkaitkan dengan teori konspirasi, sehingga banyak masyarakat yang mencampuradukkan data dengan asumsi dan kecurigaan, menggunakan analisis konspirasi politik," ungkap Eko.

Karena Telko adalah pemegang saham pengendali Telkomsel, maka setiap hasil investasi yang dilakukan oleh Telkomsel, baik itu untung atau rugi akan dicantumkan di laporan keuangan Telkom.

Selain itu menurut Eko, investasi yang dilakukan oleh Telkomsel di GoTo juga tidak sembarangan, karena ada SingTel sebagai pemegang saham Telkomsel yang akan melakukan penilaian yang ketat setiap pengeluaran uang atau investasi yang dilakukan Telkomsel.

Sebagai informasi, saham GoTo siang ini melesat cukup tinggi. Pada pukul 13.55 saham GoTo berada di level Rp 290 per saham atau naik 16,94%. Meski demikian harga saham tersebut masih di bawah harga IPO Rp 338 per saham. Telkomsel sendiri masuk ke GoTo sebelum perusahaan hasil merger ini IPO.

(dna/dna)