Pendapatan Naik 69%, Anak BUMN Ini Malah Rugi Rp 37 M, Kok Bisa?

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 01 Jun 2022 21:00 WIB
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat naik hingga hampir 20 poin tapi kemudian melambat lagi. Investor belum bersemangat sehingga perdagangan berjalan lesu. Pada penutupan perdagangan Sesi I, Jumat (14/11/2014), IHSG turun tipis 4,732 poin (0,09%) ke level 5.043,936. Sementara Indeks LQ45 melemah tipis 0,233 poin (0,03%) ke level 864,319.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

PT Indofarma Tbk menorehkan peningkatan penjualan bersih hingga 69% di 2021. Namun ternyata emiten berkode INAF ini malah rugi Rp 37 miliar. Kok bisa?

Melansir keterangan resmi perusahaan, Rabu (1/6/2022) secara konsolidasian anak usaha dari PT Bio Farma (Persero) ini mencatatkan penjualan bersih sebesar Rp 2,90 triliun. Angka meningkat sebesar Rp 1,19 triliun atau 69,15% dibandingkan tahun 2020 sebesar Rp 1,72 triliun.

Peningkatan penjualan bersih tersebut terutama masih didominasi dari penjualan produk covid-related baik untuk segmen alat kesehatan, obat-obatan dan pengadaan serta distribusi penugasan vaksin COVID-19, Covovax.

Neraca keuangan konsolidasian perseroan tahun 2021 mencatatkan pertumbuhan jumlah aset, baik aset lancar dan tidak lancar sebesar 17,42% dibandingkan tahun 2020, dengan nilai sebesar Rp 2,01 triliun dibandingkan Rp1,71 triliun di tahun 2020. Jumlah ekuitas juga mencatatkan sebesar Rp 508,31 miliar, mengalami kenaikan sebesar 18,12% dibandingkan tahun 2020 dengan nilai sebesar Rp 430,33 miliar.

Dari sisi pengendalian biaya, walaupun Beban Pokok Penjualan Perseroan mengalami kenaikan 86,34% sejalan dengan peningkatan penjualan dibandingkan tahun 2020, laba bruto tahun 2021 meningkat sebesar 12,74% dari Rp 400,60 miliar di tahun 2020 menjadi Rp 451,65 miliar.

Secara operasional, Perseroan telah berhasil meningkatkan kinerja sehingga mampu mendapatkan EBITDA Rp 184,56 miliar di tahun 2021 dibandingkan EBITDA tahun 2020 sebesar Rp164,40 miliar
atau tumbuh sebesar 12,26%.

Dengan adanya penerapan kebijakan akuntansi PSAK 71 di tahun 2020, Perseroan membukukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) dan beban pajak kini yang berdampak terhadap tergerusnya laba bersih Perseroan sehingga Perseroan membukukan rugi bersih sebesar Rp 37,57 miliar. Hal tersebut dalam rangka meningkatkan kepatuhan terhadap regulasi dan bagian dari tindakan prudent Perseroan.

Sepanjang tahun 2021, Perseroan telah berupaya untuk menangkap peluang bisnis demi mencapai pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan. Strategi penguatan kinerja yang akan dilakukan Perseroan berfokus pada High-Performance Enterprises, Sales Portofolio Strategy, Product Portofolio Strategy, Supply Chain Management, Cash Flow Management, Human Capital Development, Business Process Alignment, dan Discipline of Execution. Dengan strategi tersebut, Perseroan berkeyakinan mampu mewujudkan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.

(das/fdl)