Yen Menukik Tajam, Ini Biang Keroknya

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Senin, 20 Jun 2022 09:17 WIB
Uang Kertas Yen jepang. dikhy sasra/ilustrasi/detikfoto
Foto: Dikhy Sasra
Jakarta -

Nilai mata uang Yen menukik tajam setelah Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga ultra-rendah. Hal ini dilakukannya di saat para pembuat kebijakan di seluruh dunia menaikkan biaya pinjaman untuk mengatasi kenaikan harga demi mengatasi lonjakan harga di pasaran.

BOJ mempertahankan target suku bunga jangka pendeknya pada minus 0,1% dan mengatakan pihaknya memperkirakan akan menjaga biaya pinjaman pada tingkatan seperti sekarang atau lebih rendah, dilansir melalui BBC, Jumat (17/06/2022).

Hal ini terlihat sebagai sinyal bahwa bank tersebut akan terus fokus mendukung pemulihan ekonomi yang lambat dari pandemi, ketika konsumen Jepang mulai melihat harga naik. Bahkan BOJ juga mengatakan akan melanjutkan program pembelian obligasi pemerintah dalam jumlah besar.

Di sisi lain, pada pekan itu bank sentral di AS, Inggris dan Swiss telah menaikkan suku bunga karena mereka mencoba untuk mengendalikan inflasi.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, dolar AS naik hingga mencapai 134,64 yen, tidak jauh berbeda dari nilai puncaknya pada 24 tahun silam, yakni di 135,6 yen.

Bahkan, sepanjang tahun ini dolar telah naik 15% terhadap yen. Hal ini disebabkan karena kesenjangan antara suku bunga di Jepang dan sebagian besar negara lain yang terus tumbuh.

Yen kini telah jatuh nilainya terhadap mata uang utama lainnya. Hal ini dikarenakan suku bunga yang lebih tinggi cenderung menarik investasi asing dan meningkatkan permintaan dan nilai mata uang negara-negara yang memiliki suku bunga lebih tinggi.

"Saya memperkirakan pasar keuangan akan terus memberikan tekanan pada yen, berpotensi mendorongnya ke nilai lebih dari 140 terhadap dolar, karena Bank of Japan bersikeras membatasi suku bunga mendekati nol, sementara seluruh dunia buru-buru memulai pengetatan untuk mengatasi lonjakan, inflasi non-sementara secara global," Jeffrey Halley, Analis Pasar Senior, Asia Pasifik, OANDA, dilansir melalui BBC.

Sebagai tambahan informasi, pada hari Kamis, Bank of England menaikkan suku bunga utamanya dari 1% menjadi 1,25%, mendorongnya ke level tertinggi dalam 13 tahun.

Hal tersebut terjadi setelah Federal Reserve AS pada hari Rabu pekan lalu mengumumkan kenaikan suku bunga terbesar dalam hampir 30 tahun terakhir. Suku bunga tersebut naik tiga perempat poin persentase ke kisaran anatara 1,5% hingga 1,75%.



Simak Video "Rupiah Paling Kuat Tekan Dolar Pagi Ini"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)