ADVERTISEMENT

Strategi Bulakapak buat Sembuhkan Keuangan yang Masih 'Berdarah-darah'

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 29 Jun 2022 12:32 WIB
IPO Bukalapak
Foto: Bukalapak (Denny Pratama/detikcom)
Jakarta -

PT Bukalapak Tbk memiliki sejumlah strategi untuk mengurangi kerugian atau EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortiasasi) yang masih minus Rp 372 miliar.

Presiden Bukalapak Teddy Oetomo mengungkapkan saat ini perusahaan berupaya untuk mengembangkan pendapatan agar volume transaksi bisa mengimbangi dan mencetak margin kontribusi di ranah positif.

"Kemudian terus mengembangkan volume dari pendapatan dan mendapat coverage dan membawa EBITDA ke ranah positif," kata dia dalam konferensi pers, Rabu (29/6/2022).

Dari paparan disebutkan hingga akhir Maret 2022 pendapatan Bukalapak tercatat Rp 788 miliar dari hasil transaksi senilai Rp 34,11 triliun. Kemudian Ebitda minus Rp 372 miliar.

Dia menyampaikan EBITDA yang disesuaikan ini karena adanya PSAK adanya investasi perseroan pada Allo Bank. Kemudian dia memperkirakan EBITDA masih mencatat kerugian Rp 1,4 triliun-Rp 1,5 triliun.

"Memang ada yang menganggap jika kerugian mungkin melebar. Tapi hal ini bukan target dari perusahaan, kami lakukan di sini adalah memberikan gidance bahwa EBITDA yang disesuaikan diharapkan bisa flat dibandingkan tahun lalu," jelasnya.

Dia menyebutkan jika perusahaan berupaya untuk menjaga Ebitda pada level yang sudah disesuaikan. "Pada posisi yang sama dengan bulan Mei, maka akan terlihat kemungkinan bagi EBITDA yang disesuaikan untuk lebih baik daripada minus Rp 1,4 triliun," jelasnya.

Tapi laba bersih tercatat Rp 14,42 triliun dari hasil keuntungan investasi pada Allo Bank. Teddy menjelaskan sepanjang 2022 ini Bukalapak manargetkan pendapatan bisa mencapai Rp 2,7 triliun-Rp 3 triliun.

Nah hasil ini akan ditopang dari Total Processing Value atau nilai perdagangan Rp 170 triliun-Rp 180 triliun atau naik 39%-47% dibandingkan 2021 sebesar Rp 122,6 triliun.

Teddy menjelaskan saat ini Bukalapak memang tidak menargetkan untuk menjadi pemain yang dominan di industrinya. Mereka akan fokus masuk ke bisnis-bisnis yang lebih kecil namun menjanjikan.

"Tetap bagaimanapun sebagai bisnis mengelola fixed cost dan terus mengedepankan strategi yang menjanjikan dan bisa membawa perusahaan ke profit," jelas dia.



Simak Video "Warga Berebut Nasi Berkat Buka Luwur Sunan Kudus"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT