ADVERTISEMENT

Mengintip Jumlah Perusahaan yang IPO di BEI 5 Tahun Terakhir

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Sabtu, 16 Jul 2022 12:50 WIB
Indeks harga saham gabungan (IHSG) berbalik melemah 0,07% atau 3,04 poin ke level 4.497,91 pada perdagangan Rabu (18/11/2015). Sementara HP Analytics mengemukakan indeks MSCI Asia Pacific dibuka menguat pagi tadi, didorong oleh penguatan pada saham di bursa Jepang. Mata uang yen melemah terhadap dolar menjelang pertemuan bank sentral Jepang (BOJ). Para investor juga menanti hasil minutes dari the Fed yang akan dirilis hari ini. IHSG hari  diperkirakan bergerak di kisaran 4.4534.545, Rabu (18/11/2015). Rachman Haryanto/detikcom.
BEI/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Kepemimpinan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di bawah Wimboh Santoso dinilai signifikan mendorong pasar modal. Wimboh akan segera mengakhiri jabatannya dan digantikan oleh Mahendra Siregar.

Pengamat pasar modal, Desmond Wira mengatakan peran OJK lima tahun terakhir bisa dilihat dari banyaknya perusahaan yang menawarkan saham umum perdana (Initial Public Offering/IPO).

"Kalau menurut saya sangat signifikan peran OJK dalam lima tahun terakhir. Bisa dilihat dari jumlah perusahaan yang IPO semakin banyak, dan dua unicorn sudah IPO juga," katanya, dikutip Sabtu (16/7/2022).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), jumlah perusahaan yang IPO naik signifikan dalam lima tahun terakhir, dibandingkan lima tahun sebelumnya.

Diawali pada 2017, 37 perusahaan menggelar IPO, 2018 dan 2019 naik masing-masing menjadi 57 IPO dan 55 IPO. Kemudian pada 2020 51 IPO dan 2021 sebanyak 54 IPO. Pada 2022 sudah terealisasi 21 perusahaan dengan 40 calon emiten dalam pipeline.

"Dari sisi jumlah investor juga mengalami peningkatan signifikan. Pada 2017, jumlah investor pasar modal tercatat sebanyak 1,12 juta. Pada 2022 sudah menjadi 9 juta," tambahnya.

Secara umum, jelasnya, regulasi yang diterbitkan OJK memberikan dampak positif bagi pasar saham karena ada kepastian aturan yang menjadi acuan bagi investor, emiten maupun perusahaan yang ingin mencatatkan sahamnya di BEI.

"Semakin jelas aturannya dan semakin akomodatif tentunya memberi dampak positif bagi pasar modal," jelas Desmond.

Desmond menilai salah satu regulasi OJK, yaitu POJK Nomor 4/POJK.04/2022 atas perubahan POJK Nomor 7/POJK.04/2021 Tentang Kebijakan Dalam Menjaga Kinerja dan Stabilitas Pasar Modal Akibat Penyebaran Corona Virus Disease 2019 juga efektif menjaga pasar modal dari potensi gejolak akibat dampak pandemi.

"Menurut saya sih cukup efektif (POJK 04/2022-red). Sejauh ini, kinerja pasar saham masih cukup baik, tidak terlalu terpuruk karena dampak pandemi sampai 2022 ini. Intinya peraturan itu adalah soal stabilitas. Kalau soal stabilitas, menurut saya tercapai," jelas Desmond.

Lebih jauh dia mengatakan, secara umum ada dua hal yang mendorong kinerja pasar modal dalam lima tahun terakhir. Pertama, dari pertumbuhan dan kondisi ekonomi dalam lima tahun terakhir masih terhitung kondusif. Kedua, dari segi aturan juga diperlonggar, misalnya dengan adanya emiten akselerasi dan startup.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT