Ini Biang Kerok Dolar AS Nyaris Rp 15.100, Siap-siap Skenario Terburuk!

ADVERTISEMENT

Ini Biang Kerok Dolar AS Nyaris Rp 15.100, Siap-siap Skenario Terburuk!

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 26 Sep 2022 20:17 WIB
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) pagi ini masih berada di level Rp 14.100. Dolar AS sempat tersungkur dari level Rp 14.500an hingga ke Rp 14.119 pada Sabtu pekan lalu.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat menekan Rupiah. Kini nilai tukar Dolar AS sudah hampir menyentuh level Rp 15.100.

Dilansir dari data perdagangan RTI, Senin (26/9/2022), nilai tukar Dolar AS sudah mencapai Rp 15.060 pada penutupan perdagangan. Secara harian, nilai tukar Dolar sudah menguat 0,86%.

Hari ini nilai tukar Dolar AS paling rendah di level Rp 14.931. Sementara itu titik tertingginya mencapai Rp 15.097, hanya kurang Rp 3 saja untuk menyentuh level Rp 15.100.

Lalu apa sih penyebab menguatnya Dolar AS terhadap Rupiah?

Analis DCFX Futures Lukman Leong membeberkan kenaikan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve menjadi biang kerok menguatnya Dolar, mata uang negeri Paman Sam makin menguntungkan nilainya dengan adanya kenaikan suku bunga. Apalagi, imbal hasil obligasi 2 tahun AS juga makin tinggi di angka 4,3%.

"Meningkatnya ekspektasi pada kebijakan kenaikan suku bunga the Fed semakin menguatkan dolar AS selama sepekan ini. Dengan imbal hasil obligasi 2 tahun AS mencapai 4,3%," papar Lukman kepada detikcom.


Selain membuat dolar AS lebih menarik, Lukman menilai kebijakan agresif dari the Fed AS juga meningkatkan kekhawatiran resesi yang menyebabkan investor melepas aset dan mata uang beresiko dan memburu dolar AS.

Skenario Terburuk

Lukman menambahkan, tekanan pada Rupiah masih akan bertahan dalam waktu dekat. Apalagi ada ekspektasi inflasi Indonesia dan suku bunga Bank Indonesia (BI) yang perlahan meningkat.

"Hal-hal tersebut menyebabkan investor melepas rupiah dan obligasi pemerintah juga," kata Lukman.

Skenario buruknya, menurut Lukman, apabila BI tidak merespons dengan kenaikan suku bunga yang agresif serta intervensi, maka jangka pendek nilai tukar Dolar akan terus menguat terhadap Rupiah di level Rp 15.300-15.500. Sementara itu, untuk jangka menengah hingga akhir tahun akan berada di Ro 15.800-16.000.

Di sisi lain, Ekonom Permata Bank Josua Pardede juga mengamini penguatan Dolar AS terjadi karena adanya kenaikan suku bunga The Fed. Malah bukan cuma Rupiah, menurutnya Dolar AS akan terus menguat ke berbagai mata uang dunia lainnya.

"Penguatan Dolar AS terhadap mata uang dunia, termasuk Rupiah dipengaruhi oleh sentimen arah suku bunga Fed yang diperkirakan hingga akhir tahun ini akan menaikkan suku bunga hingga 4,25-4,5%," papar Josua kepada detikcom.

Pengaruh melemahnya Pound Sterling di halaman berikutnya. Langsung klik

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT