Rupiah Diramal Makin Terpuruk Lawan Dolar AS, Ini Biang Keroknya!

ADVERTISEMENT

Rupiah Diramal Makin Terpuruk Lawan Dolar AS, Ini Biang Keroknya!

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 29 Sep 2022 05:45 WIB
Illustrasi Rupiah dan Dollar
Rupiah Diramal Makin Terpuruk Lawan Dolar AS, Ini Biang Keroknya!/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kemarin kembali menguat dan menekan rupiah. Berdasarkan data Reuters, dolar AS sudah bertengger di posisi Rp 15.270.

Ekonom menilai penguatan ini diprediksi masih terjadi hari ini. Ada beberapa faktor yang menyebabkan menguatnya nilai tukar dolar AS.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menjelaskan hingga kemarin siang hampir semua mata uang Asia melemah terhadap dolar AS.

"Hari ini faktor trigger-nya adalah pertama statement pejabat Fed yang semakin memberikan nuansa bahwa the Fed masih akan tetap hawkish," kata dia, Rabu (28/9/2022).

Selain itu, Rusia akan mengusulkan penurunan produksi minyak 1 juta barel pada pertemuan OPEC+ pada Oktober nanti. Kondisi tersebut yang kembali membuat pelaku pasar kian khawatir, sehingga di pasar saham dan obligasi New York loyo.

"Yield UST 10 year sempat naik mencapai 3,95%, sementara DXY mengalami penguatan kembali ke atas 114 setelah sebelumnya sempat di bawah 114," ujarnya.

Menurut Edi, bank sentral tetap mengawal dengan triple intervention supaya mekanisme pasar tetap terjaga dan tidak terjadi pelemahan yang liar atau berlebihan.

"Selain itu operation twist akan tetap dilakukan dengan fokus di operasi bond jangka pendek, namun tetap memperhatikan perkembangan pasar tentunya," jelas dia.

Dolar AS Diramal Masih Menguat

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengungkapkan perdagangan hari ini mata uang rupiah kemungkinan dibuka fluktuatif, tapi ditutup melemah di rentang Rp 15.250-15.310.

"Dengan kondisi yang tidak pasti akibat kenaikan suku bunga yang agresif, Bank Indonesia tidak tinggal diam, terus melakukan pengawasan secara ketat dan terus melakukan intervensi di pasar valas dan Obligasi melalui perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) sehingga bisa menahan pelemahan mata uang garuda yang tajam bisa dikendalikan," ujar dia.

Menurut Ibrahim pemerintah juga terus melakukan intervensi dengan mensubsidi barang-barang konsumsi, bansos, dan BLT walaupun secara ekonomis belum bisa membantu secara signifikan namun pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja agar pengaruh global tidak terlalu besar imbasnya.

"Kemudian di saat intervensi BI dan pemerintah kurang berpengaruh, sudah waktunya presiden Joko Widodo beserta team ekonominya memberikan pengarahan dan solusi secara live di televisi berupa stimulus, guna untuk menenangkan pasar sehingga pelemahan rupiah bisa di kendalikan," ujar dia.


Saksikan juga d'Mentor on Location: Rahasia Dulang Rupiah Dari Limbah

[Gambas:Video 20detik]



(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT