Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Sri Mulyani Ungkap Lebih Baik dari Rupee-Baht

ADVERTISEMENT

Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Sri Mulyani Ungkap Lebih Baik dari Rupee-Baht

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 03 Nov 2022 13:33 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hadir dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI. Rapat itu membahas pagu indikatif Kementerian Keuangan dalam RAPBN 2022
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan indeks nilai tukar Dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) mencapai level tertinggi dalam dua dekade terakhir yaitu 114,76 pada tanggal 28 September 2022.

Dia menjelaskan nilai tukar rupiah sampai 31 Oktober 2022 terdepresiasi 8,62% year to date, relatif lebih baik dibandingkan dengan depresiasi mata uang sejumlah negara berkembang lainnya seperti India (10,20%), Malaysia (11,86%), dan Thailand (12,23%), sejalan dengan persepsi terhadap prospek perekonomian Indonesia yang tetap positif.

"Tren depresiasi nilai tukar negara berkembang tersebut didorong oleh menguatnya dolar AS dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global akibat pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif di berbagai negara, terutama AS," ujar dia dalam konferensi pers, Kamis (3/11/2022).

Dia menambahkan Fed Fund Rate yang diprakirakan lebih tinggi dengan siklus yang lebih panjang mendorong semakin kuatnya mata uang dolar AS sehingga menyebabkan depresiasi terhadap nilai tukar di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Dari data Reuters, nilai dolar AS tercatat Rp 15.664 atau menguat 0,12%. Pergerakan dolar AS dalam satu hari pada level Rp 15.650-15.685.

Posisi cadangan devisa akhir September 2022 masih tetap kuat, tercatat pada level yang masih tinggi yaitu US$ 130,8 miliar, setara dengan pembiayaan 5,9 bulan impor.

Dari sisi neraca transaksi berjalan, pada kuartal III-2022 diprakirakan kembali mencatatkan surplus ditopang kinerja neraca perdagangan yang membukukan surplus US$ 14,9 miliar pada triwulan III-2022.

"Kontribusi neraca perdagangan tersebut dapat meredam tekanan arus modal keluar nonresiden pada investasi portofolio yang mencapai US$ 2,1 miliar akibat meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global," ujarnya.

Kinerja ekspor diprakirakan tetap kuat, khususnya batu bara, CPO, serta besi dan baja seiring dengan permintaan dari beberapa negara mitra dagang utama yang masih kuat dan kebijakan Pemerintah untuk mendorong ekspor CPO beserta turunannya.Neraca transaksi modal dan finansial diprakirakan masih akan ditopang oleh realisasi positif dari penanaman modal asing (PMA).

Lihat juga video 'Sri Mulyani Tepis Pemerintah Cuma Bahas Infrakstrukur-IKN Saja':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT