Sri Mulyani hingga Perry Warjiyo Buka-bukaan Kondisi Keuangan RI, Aman Nggak?

ADVERTISEMENT

Sri Mulyani hingga Perry Warjiyo Buka-bukaan Kondisi Keuangan RI, Aman Nggak?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 03 Nov 2022 12:31 WIB
Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Muhammad Idris-detikFinance
Jakarta -

Hari ini Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengumumkan hasil rapat berkala. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hingga Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan kondisi stabilitas sistem keuangan RI.

Sri Mulyani menyampaikan stabilitas sistem keuangan kuartal III-2022 tetap berada dalam kondisi yang resilien. Dalam rapat yang digelar secara berkala pada Kamis tanggal 27 Oktober 2022 untuk menjaga stabilitas sistem keuangan dan untuk perkuat koordinasi dan perkembangan risiko global dalam menyiapkan respons kebijakan.

Dia menjelaskan kinerja ekonomi global melambat dengan risiko ketidakpastian yang makin tinggi. Perlambatan ekonomi terjadi di AS. Eropa dan China. Ini pengaruh ke Purchasing Managers' Index (PMI) global September 2022 yang sudah masuk ke zona kontraksi level 49,8.

"Perlambatan ini dipengaruhi berlanjutnya ketegangan geopolitik dan perang di kawasan Ukraina yang memicu inflasi tinggi. Fragmentasi ekonomi global perdagangan dan investasi dan pengetatan kebijakan moneter yang agresif di negara maju," kata dia dalam konferensi pers, Kamis (3/11/2022).

Sri Mulyani mengungkapkan, kenaikan Fed Fund Rate membuat nilai tukar dolar AS menguat dan terjadi depresiasi pada nilai tukar di berbagai negara. Dari sisi domestik, konsumsi swasta masih kuat meski di tengah kenaikan inflasi. Lalu investasi non bangunan yang meningkat dan kinerja ekspor yang masih terjaga.

"Pada Oktober 2022 PMI Indonesia masih masuk di dalam zona ekspansif 51,8. Sedikit turun dari September 53,7. Sementara itu pada September 2022 indeks penjualan riil IPR masuk 55,5% yoy," jelas dia.

Sementara itu untuk indeks keyakinan konsumen (IKK) menunjukkan persepsi konsumen yang ekspansif yaitu pada level 117,2. Posisi ini memang lebih rendah dari posisi Juni yang berada pada 128,2. Menurut dia ini merupakan dampak dari penyesuaian harga BBM yang tentu menimbulkan kenaikan harga.

"Perbaikan ekonomi nasional terlihat kinerja lapangan usaha utama yaitu sektor perdagangan pertambangan dan pertanian. Dari sisi demand konsumen masih kuat. Lalu ekspor baik dan dari sisi supply side lapangan usaha utama perdagangan, pertambangan pertanian tunjukkan kinerja yang masih baik," ujar dia.

Angka inflasi lebih rendah dari perkiraan awal pemerintah kenaikan harga BBM. Lalu indeks harga konsumen per Oktober 2022 tercatat pada level 5,71% lebih rendah dari bulan sebelumnya 5,95%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bank sentral berupaya memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pertumbuhan ekonomi nasional. BI berupaya untuk menempuh kebijakan moneter dan menjaga stabilitas sebagai penanganan dari dampak ketidakpastian global.

BI juga menempuh kebijakan lain di bidang digitalisasi sistem pembayaran dan inklusi ekonomi keuangan yang terus diarahkan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional. Sejak Agustus 2022 BI telah menaikkan bunga acuan sebanyak 125 bps menjadi 4,75%.

"Keputusan ini front loaded, preemtive dan forward looking untuk menjaga ekspektasi inflasi yang sudah overshooting serta memastikan inflasi inti kembali ke awal dan inflasi kembali ke semula pada paruh pertama 2023," jelasnya.

Sebagai informasi, KSSK beranggotakan Menteri Keuangan sebagai koordinator merangkap anggota, Gubernur BI sebagai anggota, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai anggota dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sebagai anggota.

Lihat juga Video: 2045 Ekonomi Indonesia Kuat, Erick Thohir: Tugas Gen Z!

[Gambas:Video 20detik]



(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT