BUMN Ramai-ramai Antre Jual Saham Tahun Depan, Ada Apa?

ADVERTISEMENT

BUMN Ramai-ramai Antre Jual Saham Tahun Depan, Ada Apa?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 08 Des 2022 06:00 WIB
Sejumlah tamu beraktivitas di dekat logo baru Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (2/7/2020). Kementerian BUMN meluncurkan logo baru pada Rabu (1/7) yang menjadi simbolisasi dari visi dan misi kementerian maupun seluruh BUMN dalam menatap era kekinian yang penuh tantangan sekaligus kesempatan. ANATAR FOTO/Aprillio Akbar/nz
Foto: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Jakarta -

Empat BUMN bersiap melantai di bursa saham dengan melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) tahun depan. Keempatnya adalah PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), Pertamina Hulu Energi (PHE), PalmCo, dan PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT).

Dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Wakil Menteri BUMN I Pahala Nugraha Mansury menjelaskan soal rencana tersebut. Menurutnya, aksi korporasi ini bertujuan untuk mengumpulkan dana, meningkatkan ketahanan pangan dan energi, hingga meningkatkan transparansi.

"Untuk bisa meningkatkan ketahanan pangan dan energi, ada empat rencana BUMN atau anak usaha BUMN untuk bisa melakukan penawaran saham ke publik di 2023," katanya di gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (7/12/2022).

Ia menyebut Pertamina Geothermal Energy, sebagai perusahaan panas bumi terbesar di dunia berdasarkan total kapasitas terpasang. Saat ini total kapasitas terpasang yang dihasilkan PGE mencapai 672 megawatt (MW). Dengan melakukan IPO, diharapkan PGE bisa melakukan unlock value sesuai dengan upaya pemerintah.

Ditargetkan PGE bisa meningkatkan kapasitas terpasang 600 MW dalam lima tahun mendatang. Adapun progres IPO PGE sudah didaftarkan di OJK tahap pertama dan kedua.

BUMN lain yang akan IPO adalah PHE, subholding upstream dari PT Pertamina Persero. PHE merupakan produsen migas terbesar di Indonesia berdasarkan total produksinya.

PHE direncanakan menawarkan 10-15% saham ke publik. Hasil IPO akan dipakai meningkatkan rencana pertumbuhan produksi dalam lima tahun mendatang.

Pelaksanaan IPO selain untuk meningkatkan transparansi, juga untuk meningkatkan diversifikasi sumber pendanaan. Selama ini pendapatan PHE berasal dari holding atau PT Pertamina (Persero). Ke depan total belanja modal untuk mengembangkan PHE berkisar US$ 4-6 miliar atau Rp 60-90 triliun.

"Ini pendanaan yang sangat besar. Ini bisa mengoptimalkan momentum harga, khususnya harga minyak dan gas bumi yang tinggi. Ini diharapkan mendorong adanya sentimen positif terhadap emiten di sektor energi. Di pasar modal Indonesia sedikit emiten eksplorasi migas yang menjadi emiten di pasar modal," jelasnya.

Yang ketiga adalah PalmCo, anak usaha integrasi grup usaha di bidang komoditas kelapa sawit dari holding perkebunan BUMN PT Perkebunan Nusantara III (Persero).

Pahala menjelaskan, proses IPO saat ini masih berlangsung untuk bisa menggabungkan perusahaan-perusahaan di bawahnya. BUMN keempat yang akan IPO adalah PKT. Pahala menyebut total kapasitas produksi PKT merupakan yang terbesar dibanding anak-anak usaha lainnya.

Namun, DPR nampaknya belum menyetujui penuh soal rencana ini. IPO PHE misalnya yang mendapat kritik dari anggota DPR.

"Yang paling dikritisi, dicermati kawan-kawan, PHE perlu tidaknya IPO. Maka kalau mas Wiko Migantoro (Dirut PHE) tetap yakin, sampaikan sedalam-dalamnya," kata Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima.

Aria meminta penjelasan, apakah benar dengan langkah IPO ini, negara tidak lagi menguasai terkait persoalan hulu. Ia juga meminta alasan mengapa PHE berencana melakukan IPO.

"Kenapa butuh pendanaan dari publik, kawan-kawan (DPR) khawatir IPO yang melibatkan dana publik itu, soal kepemilikan yang berakibat pada penguasaan negara terdilusi," jelasnya.

(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT